Senin, 11 Desember 2017

Mengenal Ajaran Tasawuf Sunan Kalijaga

Kanjeng Sunan Kalijaga seorang tokoh wali songo, beliau mempunyai peranan yang amat penting dalam penyebaran agama islam di jawa. Peran yang paling nyata adalah melanjutkan pengislaman tanah jawa dan memperkuat landasan islami di kalangan masyarakat.

Kokohnya budaya dan adat-istiadat orang jawa yang berakar kepada nilai-nilai islam  itulah barangkali karya sunan kalijaga yang paling penting dalam perkembangan islam di Indonesia khususnya di jawa. Berikut ini adalah Ajaran Tasawuf Sunan Kalijaga.

1. Pengamalan Syariat
Syariat tidak harus dipahami secara literal dan tidak juga harus dimengerti secara harfiah.Kita harus bisa memahami makna yang ada di balik yang tampak, kemudian diamalkan untuk kehidupan nyata.
Tidak seluruh bentuk syariat yang menjadi perhatian sunan kalijaga. Beberapa hal yang menjadi kunci amalan dalam agama islam, seperti sholat dan haji, yang menjadi perhatiannya. Kedua ibadah ini dilaksanakan secara demonstratif oleh umat islam.

a) Ibadah Sholat
Keunggulan seseorang itu terletak pada pemahaman dan penghayatan dari kesejatian sholat, penyembahan dan pujian, bukan pada sholat lima waktu. Oleh sunan bonang, mengerjakan sholat lima kali sehari disebut sembahyang, sifatnya hanyalah tata karma dalam pergaulan umat islam dan hakikat mengerjakannya hanyalah hiasan bagi sholat daim.
Sholat daim disebut sebagai kebaktian yang unggul, karena semua tingkah laku merupakan wujud dari sembahyang. Jadi, sholat daim adalah sholat sepanjang hayat, tidak pernah terputus dalam keadaan apa pun dan di mana pun. Diam atau bicara, istirahat atau bekerja, tidur maupun bangun, senantiasa sholat.Semua gerak tubuh ini merupakan sembahyang.

Bukan hanya wudhu, bahkan tatkala bertinja dan kencing pun dalam keadaan sholat. Dalil dari sholat daim itu sendiri terdapat di dalam Al-qur’an, mengingat hakikat sholat dalam Al-qur’an ditujukan untuk berzikir kepada Allah dan mencegah perbuatan keji dan mungkar.

b) Ibadah Haji
Rukun islam dalam bentuk puasa dan zakat tidak mendapat porsi utama dalam ajaran islam yang diamalkan sunan kalijaga. Puasa dan zakat bukan hal yang istimewa bagi masyarakat nusantara termasuk jawa pada waktu itu. Puasa dan zakat merupakan sikap hidup sebagian besar masyarakat nusantara. Maka dari itu, ibadah haji dipandang sebagai masuknya tata cara yang baru dalam hidup beragama.

Sunan kalijaga menggambarkan bahwa ibadah haji itu buka pergi secara fisik ke kota mekah yang ada di jazirah arab. Tidak ada yang tahu letak mekah sejati, karena ada di dalam diri. Menempuhnya harus sabar dan rela hidup di dunia tanpa terjebak keduniaan.Inilah yang disebut dengan haji.Sabar dan ikhlas dalam meniti kebenaran.

Sabar berarti tahan uji dalam menempuh kehidupan ini. Terus bertekad menempuh jalan yang benar meski godaan dan rintangan menghadang.orang yang sabar tak akan berhenti di tengah jalan dalam mencapai tujuannya. Sedangkan ikhlas atau rela adalah kesanggupan untuk hidup tak terkontaminasi atau tercemari kotoran dunia.

Tak ikut-ikutan berebut takhta, harta, dan dunia.Semua ini dikatakan sebagai haji karena tujuan haji adalah untuk menjadikan manusia sempurna, insan kamil.
Jika kesalehan dalam hidup ini sudah menjadi bagian pelaksanaan syariat agama, selanjutnya kita tinggal meningkatkan keimanan dan ketakwaan hidup ini.Meningkatkan keikhlasan dan semangat hidup yang benar.Tanpa wujud nyata dalam hidup ini maka syariat hanyalah formalitas belaka.

2. Tarekat Sunan
Sunan kalijaga adalah seorang mistikus. Dia mistikus islam sekaligus mistikus jawa. Tentu saja dia seorang sufi dan pengamal tarekat. Berdasarkan saresahan wali, yang menjadi sumber pelajaran keimanan dan makrifat adalah kitab ihya’ ulum ad-din karya Imam al-Ghazali. Tentunya tarekat yang dianutnya adalah ghazaliyyah.

Tetapi, jika dilacak dari berbagai tembang yang ditulisnya, atau serat suluk tentang dirinya, jelas amat sulit menggolongkan sunan ke dalam tarekat tertentu.Tampaknya sunan meramu ajaran tarekat yang berasal dari luar dengan praktik mistik jawa.

a) Meditasi dan kontemplasi
Meditasi atau semedi merupakan salah satu cara dalam tarekatnya sunan kalijaga. Meditasi atau semedi dapat disamakan dengan zikir. Melakukan meditasi tidak sama dengan olahraga pernapasan. Kalau olahraga yang diperhatikan hanyalah badan jasmani saja, tetapi dalam meditasi ada daya upaya, usaha, untuk meningkatkan kesempurnaan spiritual.

Pertama, bagi yang hendak melakukan semedi harus melakukan sesaji ing sagara, yaitu mengutamakan peranan kalbu.Sagara atau lautan dalam pandangan jawa merupakan lambang bagi hati atau kalbu. Harus bisa mengendalikan hati sehingga pengembaraan perasaan, pikiran dan permana menjadi satu.

Kedua, semedi merupakan cara untuk membersihkan diri dari program lama yang masih melekat pada pita kaset hidup ini. Ketiga, bila zikir yang dilakukan telah sempurna benar-benar, yakni angan-angan, pikiran dan ilusi telah lenyap, maka batin sang pezikir selamat sentosa. Dia terbebas dari segala gangguan batin.

b) Kesalehan dalam hidup
Dalam bahasa agama, amar makruf (menyeru kematian) merupakan wujud kesalehan dalam hidup. Baik itu kesalehan pribadi maupun social.Amar makruf merupakan perintah untuk berbuat dan bertindak kebajikan. Yaitu, perbuatan baik yang sudah dikenal oleh masyarakat. Sesuatu yang makruf itu merupakan wujud dari kearifan local. Artinya, apa yang ma’ruf di jazirah Arabia, belum tentu ma’ruf di jawa.

Dalam kemakrufan local dikenal apa yang namanya Pancasetya, yaitu setya budaya, setya wacana, setya semaya, setya laksana, dan setya mitra.
·         Pertama, setya budaya. Dengan budayanya, manusia mencoba mengatasi alam lingkungan hidupnya untuk kesejahteraan hidupnya.
·         Kedua, setya wacana. Memegang teguh ucapannya.Apa yang diperbuat sesuai dengan yang dikatakan.
·         Ketiga, setya semaya. Dalam kehidupan ini kita harus senantiasa menepati janji.Janji merupakan ucapan kesediaan atau kesanggupan untuk memberikan sesuatu.
·         Keempat, setya laksana. Yaitu bertanggung jawab atas tugas yang dipikulnya.
·         Kelima, setya mitra. Artinya, yang dibangun dalam kehidupan ini adalah persahabatan dan kesetiakawanan. Dalam bahasa kehidupan modern yang kita bangun dalam kehidupan social adalah partnership atau kemitraan.
Tarekat sunan kalijaga yang intinya mengamalkan zikir dan meditasi dalam kehidupan sehari-hari, merupakan cara untuk mencapai kesadaran hidup. Bentuk dari kesadaran itu adalah amar makruf nahi mungkar dengan basis budaya jawa.

Islam yang dibawakan sunan kalijaga benar-benar menjadi rahmat bagi sekalian alam. Islam dibawakan dengan gaya tarekatnya sendiri, yaitu tarekat ala jawa.

3. Memahami Hakikat
Tahap terakhir dalam perjalanan penyempurnaan diri adalah makrifat. Sebelum mencapai tahap itu, maka kita harus memahami hakikat karena makrifat merupakan buah dari hakikat.Langkah pertama dalam tahap hakikat adalah mengenal diri.

Karena dengan mengenal dirinya itulah dia akan mengenal Tuhannya. Ada empat ketakjuban yang harus dipahami dalam tahap hakikat. Yaitu, ketakjuban pada syahadat, takbir, menghadap kepada Tuhan, dan sakaratul maut.

a) Ketakjuban terhadap Syahadat
Syahadat sebenarnya kesaksian. Dengan demikian, orang yang bersyahadat berarti orang yang bersaksi. Jelas sekali bahwa syahadat bukan mengucapkan dua kalimat syahadat belaka, melainkan ada kesadaran yang hadir ketika kalimat itu diucapkan. Jadi, bersyahadat bukan formalitas ucapan tentang kesaksian saja.

b) Ketakjuban terhadap Takbir
Selama ini takbir hanya dimaknai sebagai ucapan Allahu Akbar. Sebenarnya kekaguman pada takbir itu adalah pengucapan yang lahir dari firman Allah untuk memuji dzat-Nya, keagungan-Nya, kekaguman yang timbul di dalam hati yang menerima belas kasih-Nya.Jadi, takbir yang sebenarnya itu hasil dari penghayatan diri terhadap sifat Allah.

c) Ketakjuban saat menghadap Allah
Ada perbedaan diantara manusia dan Allah.Allah adalah sumber kebahagiaan, sumber kedamaian dan sumber keselamatan. Meskipun demikian, rasa di dalam batinlah yang bisa menangkap kebahagiaan itu. Hakikat rasa adalah tumbuhnya kemampuan untuk merasakan kehadiran Tuhan.

d) Ketakjuban saat Sakaratul Maut
Sakaratul maut harus dijemput secara mapan. Mantap dan tidak goyah dalam menghadapinya. Dalam keadaan sakaratul maut, teroris dan penggembira mungkin datang silih berganti. Mungkin semua itu menjadi tak berarti bagi yang terlatih meditasi. Bagi yang biasa zikir, kesadaran itu bagian dari hidupnya. Meditasi atau zikir adalah cara untuk melatih diri untuk bias menolong dirinya dalam menghadap Tuhan.

4. Ma’rifat Kepada Allah
Makrifat adalah hadirnya kebenaran Allah pada seorang Sufi dalam keadaan hatinya selalu berhubungan dengan “Nur Ilahi”. Makrifat membuat ketenangan dalam hati, sebagaimana ilmu pengetahuan membuat ketenangan dalam akal pikiran.
Jika meningkat makrifatnya, maka meningkat pula ketenangan hatinya. Akan tetapi tidak semua sufi dapat mencapai pada tingkatan ini, karena itu seorang sufi yang sudah sampai pada tingkatan makrifat ini memiliki tanda-tanda tertentu, antara lain :
1.    Selalu memancar cahaya makrifat padanya dalam segala sikap dan perilakunya. Karena itu sikap wara selalu ada pada dirinya.
2.    Tidak menjadikan keputusan pada suatu yang berdasarkan fakta yang bersifat nyata, karena hal-hal yang nyata menurut ajaran Tasawuf belum tentu benar.
3.    Tidak meginginkan nikmat Allah yang banyak buat dirinya, karena hal itu bisa membawanya pada hal yang haram.
4.    Dari sinilah kita dapat melihat bahwa seorang sufi tidak menginginkan kemewahan dalam hidupnya, kiranya kebutuhan duniawi sekedar untuk menunjang ibadahnya, dan tingkatan makrifat yang dimiliki cukup menjadikan ia bahagia dalam hidupnya karena merasa selalu bersama-sama dengan Tuhannya.
5.    Sampai pada tingkatan yang paling tinggi dalam pencapaiannya sebagai seorang sufi, Sunan Kalijaga telah melewati beberapa tahapan untuk dapat menuju tingkatan makrifat dan mengenal siapa dirinya. Dalam perjalanan spiritualnya yang digambarkan dalam sebuah simbol kehidupan.

Dalam Suluk seh Malaya disebutkan “Lamun siro arsa munggah kaji, marang mekah kaki ana apa,….lamon ora weruh ing kakbah sejati, tan wruh iman hidayat”
artinya, jika kamu akan melaksanakan ibadah haji ke Mekkah, kamu harus tahu tujuan.
Bila belum tahu tujuan yang sebenarnya dari ibadah haji, tentu apa yang dilakukan itu sia-sia belaka. Demikianlah sesungguhnya iman hidayat yang harus kau yakini dalam hati.
Keyakinan iman hidayat tidak mungkin ditemukan di luar diri manusia, namun ia sesungguhnya terletak di dalam diri atau batin manusia itu sendiri.

Dalam naskah Suluk Linglung disebutkan “cahaya gumawang tan wruh arane, pancamaya rampun, sejatine tyasira yekti, pangareping salira”. Artinya, cahaya yang mencorong tapi tidak diketahui namanya adalah pancamaya yang sebenarnya ada di dalam hatimu sendiri, bahkan mangatur dan memimpin dirimu.

Maksudnya manusia yang telah menyingkap dimensi batinnya, akan mengetahui hakikatnya, bahwa asal-usulnya dari Allah, berupa kesatuan hamba dengan Tuhan adalah Manunggaling Kawula-Gusti atau dalam Suluk Linglung diungkapkan dengan iman hidayat.
Proses ini dalam Suluk Linglung tercermin dalam kutipan “Lah ta mara seh Malaya aglis, umanjinga guwa garbaningwang” ,artinya, Seh Malaya segeralah kemari secepatnya, masuklah ke dalam tubuhku.

Dalam tahap ini jiwa manusia bersatu dengan jiwa semesta. Melalui kebersatuan ini maka manusia mencapai kawruh sangkan paraning dumadi, yaitu pengetahuan atau ilmu tentang asal-usul dan tujuan segala apa yang di ciptakan-Nya.

Tahap-tahap menuju suluk di jalan Allah dengan menempuh jalan yang di ridhoi Allah, demi kebahagiaan abadi baik di dunia dan di akhirat, telah diajarkan dengan baik oleh Sunan Kalijaga dengan menekankan pentingnya ajaran syari’at guna menggapai ajaran tarekat dan makrifat.


Misteri Dialog Sunan Kalijaga Dengan Sunan Lawu

Konon, Prabu Brawijaya memilih mengasingkan diri di gunung Lawu lantaran menghindari kejaran anaknya, Raden Patah. Prabu Brawijaya menghindari pertumpahan darah karena menolak mengikuti aliran kepercayaan yang dianut Raden Patah.

Beliau juga mendapat wangsit bahwa kejayaan Majapahit dengan kepercayaan Hindu akan pudar, dan diganti dengan kejayaan kerajaan baru yaitu Demak, yang dipimpin putranya, Raden Patah.
Keberadaan Prabu Wijaya di Gunung Lawu ditandai dengan adanya batu nisan yang dipercaya sebagai petilasan. Penduduk sekitar menyebutnya Sunan Lawu. Tempat itupun dikeramatkan hingga kini.

Seorang spiritual Jawa sekaligus juru kunci Gunung Malang yang merupakan anak Gunung Lawu, Budiyanto, mengatakan, Lawu menjadi salah satu pusat budaya dan tempat sakral di Pulau Jawa.
Sunan Kalijaga berkata “Namun lebih baik jika Paduka berkenan berganti syariat rasul, dan mengucapkan asma Allah. Akan tetapi jika Paduka tidak berkenan itu tidak masalah. Toh hanya soal agama. Pedoman orang Islam itu syahadat, meskipun salat dingklak-dingkluk jika belum paham syahadat itu juga tetap kafir namanya.”

Sang Prabu berkata, “Syahadat itu seperti apa, aku koq belum tahu, coba ucapkan biar aku dengarkan “

Sunan Kalijaga kemudian mengucapkan syahadat, asyhadu ala ilaha ilallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, artinya “aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Kanjeng Nabi Muhammad itu utusan Allah. “

Sunan Kalijaga berkata banyak-banyak sampai Prabu Brawijaya berkenan pindah Islam, setelah itu minta potong rambut kepada Sunan Kalijaga, akan tetapi rambutnya tidak mempan digunting.
Sunan Kalijaga lantas berkata, Sang Prabu dimohon Islam lahir batin, karena apabila hanya lahir saja, rambutnya tidak mempan digunting. Sang Prabu kemudian berkata kalau sudah lahir batin, maka rambutnya bisa dipotong.
Sang Prabu setelah potong rambut kemudian berkata kepada Sabdapalon dan Nayagenggong,
“Kamu berdua kuberitahu mulai hari ini aku meninggalkan agama Buddha dan memeluk agama Islam. Aku sudah menyebut nama Allah yang sejati. Kalau kalian mau, kalian berdua kuajak pindah agama rasul dan meninggalkan agama Buddha.”

Sabdo Palon Nayagenggong Ternyata Bukan Manusia atau jin Namun Hanya Sebuah Kitab
Saya menambahkan mengenai Sabdo Palon Nayagenggong. Sabda :ucapan/berita/tulisan/ajaran. Palon : Semesta/alam/Dunia Macro cosmos dan Micro cosmos. Nayagenggong : untuk kesejahtearaan, kedamaian dan kesatuan.

Saya tidak sependapat Sabdo Palon adalah seorang manusia, sabdopalon adalah sebuah kitab yang dibuat oleh Beliau yang berjulukan Beliau yang kesepuluh.

Isi buku tersebut adalah mengupas semua kitab suci yang diturunkan Allah melalui Nabi. Jadi Kitab Sabdopalon adalah kitab tersirat dari segala kitab suci allah. jadi bukan seperti yang beredar sekarang.kita harus waspada terhadap pengadu domba/pemfitnah.

Cerita mengenai dialog Prabu Brawijaya V dengan seseorang yang tidak mau masuk Islam adalah dimana Prabu Brawijaya V menerima putra mahkota Majapahit (pengganti Brawijaya V) dimana sang putra mahkota menolak mengganti ayahandanya Brawijaya V dengan alasan Putra mahkota tidak mau kerajaan yang beragama Hindu sebagai agama kerajaan diganti agama kerajaan menjadi agama Islam. Sehingga Putra mahkota tersebut bergelar Raden Gugur dan beliau menjadi Pertapa di gunung Lawu .

Raden Gugur ketika meninggalkan Istana beliau bersabda bahwa agama islam diperkenankan menebarkan agama islam dengan catatan bila agama islam tersebut tidak menjadikan agama yang menjadikan umatnya,damai,sejahtera dan bersatu dan saling menghormati agama lain aku akan menagih janji kepada para ulama dan pemimpin bangsa nusantara.

Dengan aku memimpin rakyat kecil turun menuju kota besar untuk meminta keadilan,kesejahteraan,kedamaian. Kemunculan aku dengan tandanya para sepuh akan turun gunung, gunung-gunung meletus,bencana alam dan manusia dimana-mana.

Dengan kepergian Putra mahkota/raden gugur Prabu Brawijaya V menjadi gundah/bingung sehingga beliau mencari pendapat siapakah kelak pengganti dirinya,intrik istanapun berkerja.beliau mendapat berita bahwa Raden Patah sedang memimpin penyerbuan ke Madjapahit.

Sehingga Prabu Brawijaya pergi meninggalkan Istana menuju ke Blambangan untuk minta bantuan dari kerajaan dari Bali. sementara kedatangan raden rahmat adalah utusan raden patah yang akan menghadap Ayahnya Prabu Brawijaya tetapi dijalan dihadang oleh kelompok yang ingin merebut kekuasaan kerajaan. sehingga raden patah mendapat berita bahwa ayahnya sedang mendapat tekanan/kudeta sehingga mengirim pasukan untuk membebaskan ayahnya,sementara

Prabu Brawijaya V mendapat berita bahwa anaknya akan menyerbu Kerajaan Madjapahit.Dalam pelarian Prabu Brawijaya, Raden Said (Sunan Kalijaga) menyusul Prabu BrawijayaV. Terjadilah pertemuan di Blambangan, dimana Raden Said menghentikan niat Prabu Brawijaya V meminta bantuan dari kerajaan di Bali.

Dimana dialog tersebut, Raden Said mengatakan kepada Prabu Brawijaya V, bahwa yang datang ke Madjapahit adalah Putra beliau sendiri yang bernama Raden Patah, dan raden patah tidak bermaksud menguasai kerajaan tetapi ingin membebaskan Prabu dari tangan pemberontak.
Setelah Prabu Brawijaya V mendengar penjelasan dai Raden Said. maka beliau tidak jadi menyeberang ke Bali dan ingin kembali ke Madjapahit. kemudian Prabu Brawijaya minta pendapat kepada Raden said.

Siapakah yang berhak menjadi pengganti Prabu Brawijaya V, oleh Raden Said diusulkan Raden Patah(anak Prabu Brawijaya v dengan Putri Cina) kemudian disetujui oleh Prabu Brawijaya V.
Raden Said (Sunan Kalijaga) kemudian meminta kesediaan untuk Prabu Brawijaya V Masuk agama islam untuk membuktikan pengakuan Raja telah menyetujui Raden Patah menjadi pengganti Prabu Brawijaya V dan agama kerajaan Madjapahit menjadi agama Islam.

Prabu Brawijaya V menyetujui kemudian Raden Said men Baiat Prabu dengan 2 kalimat syahadat. Prabu Brawijaya V meminta kepada Raden Said khusus untuk Membaca 2 Kalimat Syahadat, Prabu Brawijaya V mau melakukan tetapi tanpa asyhadu (saya bersaksi).

Dimana intinya Prabu Brawijaya V tidak berani dan sanggup yang disebabkan faktor usia dan ketidak sanggupan Prabu Brawijaya melaksanakannya. dimana kata asyhadu (bersaksi kepada tuhan) adalah sangat berat , terjadilah dialog yang sangat panjang.

Yang diakhiri oleh suatu percakapan dimana Prabu Brawijaya V mengatakan kepada Raden Said (Sunan Kalijaga) bila beliau salah dalam mengucapkan 2 kalimat syahadat tanpa asyhadu maka air danau tempat saya mengucap menjadi bukti besok bila wangi maka permohonan saya dikabulkan oleh Allah SWT.

Dan bila besok air danau ini bau anyir maka saya mengulangi membaca 2 kalimat syahadat dengan asyhadu. ternyata keesokan harinya air danau terebut berbau wangi “Kuasa Allah amat mulia dan meliputi semuanya” dan sekarang disebut kota Banyuwangi.
Dalam perjalanan pulang Sunan Kalijaga mengiringi Prabu Brawijaya V dan tiada hentinya Sunan Kalijaga dan Prabu Brawijaya V membicarakan agama Islam.

Sesampai kembali di Kerajaan Madjapahit Prabu Brawijaya menanyakan kepada Sunan Kalijaga tentang keberadaan Raden Patah, rupanya Takdir berkata lain Raden Patah ketika ditanyakan keberadannya oleh Prabu Brawijaya V berhalangan/bersimpangan jalan dan ketika terakhir kali ditanyakan oleh Prabu Brawijaya V kepada Raden Said duduk disebelah Raden Said seorang pemuda yang ditanyakan oleh Prabu Brawijaya V siapakah dia dan Raden Said menjawab ia adalah Bondan Kejawen putra Prabu juga.

Sehingga Prabu mengucapkan kepada Raden Said bahwa Raden Patah akan memimpin Kerajaan Islam pertama di nusantara dan kerajaan tersebut hanya satu periode (Demak) dan sebagai penerus kerajaan nusantara adalah keturunanku yang lain dari Bondan Kejawan.

Karena Usia Prabu Brawijaya V sudah Lanjut dan beliau wafat tidak dapat bertemu juga dengan Raden Patah, dan pesan Prabu Brawijaya V makam ku dinamakan “Makam Putri Cempa”.
Sangatlah sayang Sabdopalon yang merupakan kitab diplesetkan jadi orang dan dibuat sarana untuk mengadu domba. maka kita jangan terjebak oleh kitab-kitab apalagi jaman penjajahan belanda buku-buku tersebut diambil dan dikembalikan dengan sudah dirubah.

Seperti fakta yang ada dan sangat disayangkan Candi Borobudur pada Tingkat pertama dan kedua oleh belanda dikubur/ditanam agar kita generasi penerus tidak dapat mengetahui. Tingkat pertama dan kedua terdapat relief kehidupan manusia, dimana manusia berbuat apa yang terjadi dalam kehidupannya.

Jadi  untuk mempelajari buku-buku kuno, harus berpegangan kepada budaya adi luhur pendahulu dan bila tidak cocok, mencoba untuk mengartikan apa yang hendak dipesan lewat tulisan itu apakah simbol atau bikinan Belanda atau anteknya, sehingga kita selalu terbawa arus adu domba dan pembodohan terus.


Jumat, 03 November 2017

Makna Ajaran Tauhid Cara Semar

Apakah Anda pernah nonton pertunjukkan wayang kulit? Apa yang bisa kita nikmati sekaligus diambil dari sesosok wayang yang notobenenya hanya sebuah modifikasi dari kulit hewan tersebut? Jawabannya ternyata banyak sekali. Tergantung dari mana kita mengambil titik koordinat untuk menikmati sekaligus mengapresiasi dan menginterprestasikan sosok wayang yang tersaji dalam pegelaran wayang tersebut. Diakui atau tidak dalang memegang kendali dari nilai seni dan keilmuan yang terkandung dari tutur tinular tersebut. Lakon wayang akan menjadi hidup jika sang dalang mampu membawa lakon wayang dengan baik dan menarik.

Pada adegan peperangan misalnya, dalang harus mampu memiliki ketrampilan “sabetan” yang cukup baik. Selain itu, dalang harus mampu memainkan adegan-adegan yang sesuai dengan pakemnya, misalnya adegan wayang yang tengah gembira, maka sang dalang juga harus mampu menghadirkan ekspresi gembira. Begitu pula ketika dituntut untuk menghadirkan adegan-adegan sedih, seorang dalang juga harus mampu bersikap mancolo putro mancolo putri agar penonton terbawa dan menghayati setiap lakon yang dimainkan.

Keahlian sekaligus kelihaian dalang tidak berhenti atau cukup di situ saja. Kepintaran bersikap mancolo putro mancolo putri dan harus didukung ilmu kebudayaan dan ketuhanan. Mengapa demikian? Karena dalam sejarah wewayangan, kisah wayang tidak tidak terhenti pada nilai estetika tetapi wayang merupakan media bagi masyarakat. Wayang bagi orang Jawa merupakan compelling riligius mythology, yakni yang menyatukan masyarakat Jawa secara menyeluruh, baik secara horizontal maupun secara vertical. Sedangkan Ward Keeler mengaitkan aspek-aspek tersebut direfleksikan ke dalam kehidupan sosial dan kedudukan relatif sosial.

Kedua ilmuwan tersebut menemukan titik kesaman terhadap wayang yakni pentas wayang menyiratkan tata nilai yang menunjukkan upaya-upaya untuk mencapai keserasian hidup. Keadaan ideal yang wajib dipertahankan itu berupa keseimbangan tata tertib sosial yang digambarkan sebagai suatu masyarakat yang adil, tentram, makmur dan aman.

Nilai ketuhanan, tauhid, yang tertanam di ruh masyarakat Jawa memang kebanyakan berasal dari nilai kebudayaan, salah satunya adalah dari wayang. Peran wayang sebagai media penanaman ruh ketuhanan tidak lepas dari kecerdikan walisongo, khususnya Sunan Kalijaga yang metode dakwahnya lebih mengutamakan dengan nilai-nilai kultural masyarakat. Masyarakat Jawa yang masih mengagungkan nilai-nilai kultural akan lebih menerima nilai keagaman jika penyampaiannya itu lebih bersifat halus, sesuai dengan psikologi masyarakat Jawa yang lebih mengedepankan kehalusan budi dibandingkan jika pengajaran itu disampaikan dengan cara-cara indoktrinisasi ekstrem.

Pemahaman mengenai ketauhidan bagi masyarakat Jawa mungkin akan berbeda dengan pemahaman ketauhidan dengan bangsa Timur Tengah. Hal ini dikarenakan adalanya akulturasi budaya Jawa yang dahulunya lebih bersifat dinamisme dan animisme dengan nilai ketuhanannya yang berasal dari Timur Tengah yang juga sudah diolah secara rasa maupun karsa oleh pendakwah yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Sedangkan tauhid sendiri mempunyai arti yang sangat luas dan untuk memudahkan pemahaman kita mengenal ilmu ketauhidan ini, tauhid diartikan sebagai sikap peng-esa-an terhadap keeksistensian Tuhan. Sifat keesaan ini menjadi penting bagi umat Islam dan menjadi identitas sekaligus pembeda dengan agama-agama lain. Bertauhid dalam agama Islam tidak sekedar mempercayai akan adanya satu Tuhan tetapi lebih dari itu. Pengesaan ini juga harus ada tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Manusia beragama setidaknya harus dapat menangkap dan meniru perilaku Tuhan, seperti sifat Rahman dan Rahim-Nya.

Masalah ketauhidan dalam masyarakat Jawa lebih condong kearah masalah kemakrifatan, yakni memahami siapa dirinya serta siapa yang menciptakannya. Sangkan paraning dumadi menjadi wilayah sentral yang sering menjadi kajian sekaligus menjadi tujuan manusia Jawa dalah meng-illah-kan Tuhan. Hubungan personal manusia Jawa dengan Tuhannya sepertinya lebih menarik untuk didalami dibanding mengkaji masalah syari’atnya,. Sehingga tak ayal muncullah konsep manunggaling kawula-Gusti, sebuah konsep penyatuan hamba dengan Tuhannya.

Hal ini kemudian menginspirasi para walisongo bagaimana caranya agar konsep tersebut bisa diterima masyarakat dan tidak mengalami shock dalam beragama. Wayang adalah jawabannya. Dalam cerita wayang dengan lakon Bima Suci diceritakan bahwa setelah Bima bersatu dengan Dewa Ruci dan mendapat wejangan spiritual darinya, ia (Bima) segera mendirikan pertapaan Argakelasa dengan gelar Bima Suci atau Bima Paksa yang mengajarkan ilmu kesempurnaan hidup.

Menurut Damarjati Supadjar, serat Bima Suci menggambarkan pertemuan eksistensi dengan esensi, yang juga dikenal sebagai ngluruh sarira atau racut, mencair, dan melarut. Tranformasi Bima menjadi Bima Suci atau pertemuan Bima dengan jati dirinya atau Dewa Ruci serupa dengan pertemuan antara Musa dan Khidir. Hasilnya adalah kesadaran kosmis, kesatuan lahir dan batin, awal akhir.

Orang Jawa mengenal tokoh-tokoh wayang cukup familiar dan di antaranya yang paling favorit bahkan mempunyai nilai sakral adalah semar. Semar menjadi tokoh utama dalam segala hal, baik sebagai tokoh yang berperan sebagai abdi, penasehat kenegaraan maupun spiritual. Dalam pewayangan diceritakan bahwa semar tinggal di Karang dempel, maksudnya Semar selalu tinggal dan menyirami hati setiap hati manusia yang gersang, gelisah, dan jauh dari Tuhan. Sehingga bisa dikatakan bahwa semar selalu hadir dan menyantuni orang miskin/kekurangan kebutuhan rohani.

Selain itu, semar juga diperintahkan untuk menjaga hati manusia-manusia suci agar tidak terkontaminasi oleh sifat dan nafsu syaithaniyah. Karena itu dalam pewayangan dikatakan bahwa ia diperintahkan untuk menguasai alam sunyaruri atau alam kosong dan tidak diperkenankan menguasai manusia di alam dunia. Maksudnya dari alam kosong adalah alam yang kosong dari cahaya Ilahi yang kemudian Semar diperintahkan untuk mengisi alam kosong tersebut dengan kebutuhan-kebutuhan rohani yang berguna bagi manusia.

Sosok semar hadir untuk menegaskan mengenai arti pentingnya peran agama dalam kehidupan. Agama berperan menyadarkan manusia dan membawa mereka menuju cahaya. Sosok Semar juga merupakan symbol al-Qur’an sebagai kalam Ilahi yang sangat penting, yang di dalamnya memiliki beberapa tujuan mendasar, yaitu:
§  Membersihkan akal dan menyucikan jiwa dari segala bentuk syirik,
§  Menciptakan kemanusiaan yang adil dan beradab,
§  Menciptakan persatuan dan kesatuan alam, baik alam fisik dengan metafisik dan masih banyak lagi tujuan yang dibawa oleh sosok Semar dalam pentas pewayangan.

Dari sosok Punakawan, baik fisik maupun kehidupan kesehariannya, terkandung pancaran nilai-nilai ketasawufan. Dalam Islam, aspek tasawuf dipercaya dapat membawa manusia lebih mendekatkan diri kepada Allah. Dan dalam pencapaiannya, manusia harus menempuh maqomat kesufian yang tercermin dari Semar

Semar setidaknya memiliki sifat: wijaya (bijaksana dalam berbakti kepada Negara), mantriwira (dengan senang hati berbakti kepada Negara), wicaksana maya (bijaksana dalam berbicara dan bertindak), matangwan (dikasihi dan dicintai rakyat), satya bakti prabu (setia kepada Negara dan raja), wakniwak (tidak berpura-pura), seharwan pasaman (sabar dan sareh, tidak gugup dalam hati), dirut saha (jujur, teliti, sungguh-sungguh dan setia), tan lelana (baik budi dan mengendalikan panca indera), diwiyacita (menghilangkan kepentingan pribadi), masisi samastha buwana (memperjuangkan kesempurnaan diri dan kesejahteraan dunia). Dan masih banyak sifat panakawan yang mengarah kepada konsep hidup ala sufi.   


Minggu, 10 September 2017

Moh Limo, Ajaran Sunan Ampel Perbaili Moral Pangeran Majapahit

Komplek Makam Sunan Ampel
Sejak menempa ilmu agama di Ampel Denta, Surabaya, Jawa Timur, Sayyid Ali Rahmatullah atau Raden Rahmat alias Sunan Ampel mengajarkan para muridnya untuk menjauhi lima hal yang bisa merusak aqidah. 

Ajaran itu adalah Moh Limo (lima larangan). Falsafah dalam istilah bahasa Jawa ini, diilhami dari kondisi akhlak masyarakat semasa pemerintahan Prabu Brawijaya V di Majapahit.

Masa itu, para pangeran dan bangsawan hidup berfoya-foya, judi, mabuk-mabukan dan main perempuan. Mihat kondisi ini, Prabu Brawijaya sadar, jika terus dibiarkan, Majapahit akan hancur. Guru spiritual keagamaan pun didatangkan dari Negeri Campa yang tak lain adalah Sunan Ampel.

Sunan Ampel didatangkan atas saran Dwarawati Murdiningrum, istri Brawijaya. Sunan Ampel dihadiahi sebidang tanah di Ampel Denta, Surabaya dan dinikahkan dengan salah satu putrinya, Dewi Candrawati atau Nyai Ageng Manila.

Raden Rahmat pun mendirikan Pondok Pesantren di Ampel Denta dan bergelar Sunan Ampel. Di tempat ini, Sunan Ampel mengajarkan budi pekerti kepada para bangsawan dan pangeran Majapahit berdasarkan syariat Islam. Rakyat jelata pun ikut nyatri, belajar agama bersama-sama di Ampel Denta.

"Hasil didikan Sunan Ampel yang terkenal adalah falsafah Moh Limo. Dan sampai sekarang, para ustaz atau mubalig-mubalig, tak jarang memakai istilah Moh Limo dalam tiap dakwahnya," terang Abdul Rahman, salah satu peziarah makam Sunan Ampel kepada merdeka.com.

Moh Limo atau lima larangan adalah Moh Main atau tidak mau berjudi, Moh Mendem atau tidak mau minum arak atau mabuk-mabukan, Moh Maling atau tidak mau mencuri, Moh Madat atau tidak mau mengisap candu, ganja dan lain-lain sebagainya, Moh Madon atau tidak mau berzina atau main perempuan.

Dan atas hasil didikan Sunan Ampel kepada kaum bangsawan dan pangeran Majapahit ini, Prabu Brawijaya sangat senang. Dia menilai Islam adalah ajaran budi pekerti mulia.

Brawijaya pun membebaskan Sunan Ampel menyebarluaskan ajaran Nabi Muhammad itu di Tanah Jawa. Dengan catatan, tidak memaksa para pemeluk Agama Hindu dan Budha berpindah aqidah. Islam harus disebarkan tanpa paksaan dan ancaman.

"Sunan Ampel pun menjelaskan, memang dalam Islam tidak diperkenankan memaksa seseorang pindah keyakinan. Islam harus dipeluk atas kesadaran diri sendiri tanpa paksaan. Islam adalah agama Rahmatan lil Alamin," kata Abdul Rahman mengisahkan jawaban Sunan Ampel kepada Brawijaya.

"Dalam ajaran Islam ada ayat Alquran yang menjelaskan itu, yaitu Lakum Diinukum wa liyadiin. Yang artinya, bagimu agamamu dan bagiku agamaku," sambungnya mengutip penggalan surah Al Kafirun ayat ke-6.

Namun ketika Brawijaya diajak memeluk Islam oleh Sunan Ampel, seperti yang pernah dilakukan Sunan Gresik, Brawijaya tetap menolak membaca dua kalimat syahadat. Alasannya, Brawijaya ingin menjadi raja pemeluk Hindu terakhir di Majapahit.


Deskripsi Nafsu Manusia dalam Gamelan Singo Mengkok Sunan Drajat

Gamelan Singo Mengkok
Kiprah para Wali Songo zaman dahulu tatkala dalam menyebarkan ajaran Islam, tidak secara langsung memasukkan unsur bahasa dan budaya Arab kepada masyarakat Jawa. Seperti halnya dengan Sunan Drajat, beliau dalam penyebarkan ajaran Islam diawali  dengan menyampaikan serta menyesuaikan kultur masyarakat tersebut.

Salah satunya adalah dengan cara menyampaikan pitutur dan ajaran Islam tersebut    dengan menyanyikan tembang Pangkur. Tembang tersebut diiringi oleh gamelan Singo Mengkok.

Gamelan Singo Mengkok adalah salah satu alat musik yang sering dimainkan oleh Sunan Drajat. Di bagian bawah gamelan tersebut terdapat ukiran patung berbentuk singa yang sedang membungkuk. Singa tersebut menghadap ke depan dan sepintas mirip dengan garudayana.

Simbol Singo Mengkok ini mempunyai arti yang dalam. Makna simbolisnya yang pertama adalah Singo. Singo dalam bahasa Jawa berarti singa yang menjadi perwakilan dari tingkah laku kehewanan. Dalam hal ini dimaknai sebagai hawa nafsu manusia.

Sementara mengkok merupakan bahasa Jawa yang bisa diartikan sebagai bengkok yang digambarkan dalam ukiran singa yang sedang membungkuk. Singa yang menunduk ini dideskripsikan sebagai singa yang menahan hawa nafsu dan hanya tunduk di hadapan penciptanya.

"Hewan saja bisa menahan nafsu. Masak manusia enggak bisa. Kan malah memalukan," ujar penjaga Museum Sunan Drajat, Nurhayati di kompleks Makam Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur.

Menurut cerita Nurhayati, di era Sunan Drajat masyarakat masih terkungkung pada hawa nafsu dan kebanggaan untuk mengumbar diri. Dengan gamelan ini Sunan Drajat menyampaikan nasehat sekaligus gambaran masyarakat di era itu.

Gamelan ini merupakan peninggalan Sunan Drajat yang paling berarti. Sebab gamelan tersebut yang telah berjasa menjadi sarana penyebaran agama Islam.

Rabu, 06 September 2017

Ilmu Kerejekian Warisan Wali Songo

Untuk mendapatkan rizqi yg mudah dan melimpah ruah dengan cara yg islami,tidak mengandung unsur syirik.maka jalani tata cara di bawah ini dengan tulus ikhlas :
1.Selama 40 hari selalu menolong orang setiap harinya.walau hanya mencabutkan satu rumput orang atau membuang duri di jalan.
2.Selama 40 hari kalau ada selalu sedekah walau hanya secuil makanan atau seteguk air pada yg memerlukan.untuk lebih mudahnya,setiap hari menaruh air minum di tempat umum agar di minum orang yg kehausan.
3.Selama 40 hari jangan sampai durhaka atau menyakiti hati orang.

Untuk menjalani tata cara ini supaya di mulai pada hari ahad atau rabu.
Sebelum menjalani tata cara ini supaya mohon ma’af dan minta doa restu kepada orang tua.kalau sudah wafat ziarahi kuburnya dan minta doa restu pada kyai atau guru ngajinya.

Selama 40 hari,setiap malamnya sekitar jam 12 malam mengerjakan shalat hajat.kemudian membaca amalan berikut ini :

1.Tawassul
BISMILLAHIR ROHMANIR ROHIM.
ILA HADHROTI ROSULILLAHI MUHAMMADIN.SAW.
WA ILA HADHROTI MALAIKATI JIBRIL,ISROFIL,’IZROIL,MUNKAR,NAKIR,ROQIB,’ATID,MALIK,RIDWAN.
WA ILA HADHROTI SHULTHONIL AULIYA SYAIKH ‘ABDUL QODIR JAILANI.
WA KHUSHUSHON ASATIDZI WA ASATIDZIHIM ILA SHOHIBIL IJAZAH WA ABI WA UMMI WA JAMI’I USHULI.
KHUSHUSHON WALI SONGO AL FATIHAH…..(7 x)

2.Do’a
BISMILLAHIR ROHMANIR ROHIM.
ALLAHUMMA SHOLLI WA SALLIM ‘ALA SAYYIDINA MUHAMMAD.
YA ALLAH YA FATTAHU YA ROZZAQU YA MU’THIYYU YA MU’INU YA WADUDU YA MUJIBU.IKFINI YA KAFI.YA HU SHIFATULLAH YA HU DZATULLAH YA HU AF’ALULLAH YA HU WUJUDULLAH YASSIRLI RIZQI (di baca 40 x)

Ilmu ini banyak sekali rahasianya,di antaranya bila seseorang yg telah menjalani amalan ini,semakin ta’at beribadah serta berbuat baik kepada sesama manusia,maka akan semakin barokah umurnya,banyak rezekinya dan selalu mendapat kemudahan dalam setiap keperluan hidupnya.dan setelah menjalani tata cara 40 hari,maka harus tetap membaca do’anya sebanyak 7 x setiap habis shalat shubuh dan shalat maghrib.


Ilmu Kejawen Islam Warisan Wali Songo

Kiprah para Wali Songo   di Tanah Jawa merupakan bukti penyebaran ajaran Islam yang telah meluas hingga sampai saat ini. Sembilan wali yang tersebar di tanah Jawa sering disebut dengan Wali Songo yang ada sejak abad ke-17. Semua wali ini tinggal di tiga wilayah penting yang ada di Pulau Jawa, meliputi wilayah Surabaya meliputi daerah Gresik dan Lamongan (Jawa Timur), kemudian wilayah Kudus dan Demak (Jawa Tengah dan wilayah Cirebon (Jawa Barat).
Kedatangan dan keberadaan para Wali Songo di tanah Jawa hingga  merupakan era berakhirnya kepercayaan Hindu-Budha di Indonesia khususnya di Tanah Jawa itu sendiri. Kebudayaan Islam kemudian merajai Nusantara dan menjadi kepercayaan Mayoritas hingga saat ini. Tanah Jawa yang sangat potensial sebagai daerah penyebaran agama menjadi wilayah yang baik bagi Wali Songo untuk menyebarkan agama Islam hingga mampu menggeser keberadaan budaya Hindu Budha.
Bermula dari keberadaan Kerajaan Islam di Pulau Jawa lah walisongo berkembang. Tak hanya walisongo namun juga tokoh Islam lain yang menjadi bagian dari Kerajaan Islam di Jawa. Peranan mereka (walisongo) yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Tanah Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat para Walisongo ini lebih banyak disebut dibanding tokoh pendiri Islam lainnya. Kekuatan juga ilmu-ilmu walisongo yang diajarkan membuat para wali semakin disambut hangat dari berbagai kalangan, khususnya mereka yang senang akan ilmu walisongo ini.
Di Tanah Jawa sendiri, Walisongo lahir dengan ilmu-ilmu yang mengajarkan kepada kebaikan dan ke-ISLAM-an. Sudah banyak ilmu warisan Wali Songo  yang ditinggalkan dan masih lestari hingga saat ini, karena banyak pecinta ilmu hikmah dan ilmub spiritual yang mempelajarinya. Bahkan, para ulama dan pakar ilmu spiritual secara sengaja membuat sebuah padepokan untuk mengajarkan dan melestarikan ajaran ilmu WaliSongo ini agar tetap lestari sampai kiamat nanti. Salah satunya adalah Tokoh Spiritual Gus Cokro ST, di mana saat ini di padepokannya, beliau banyak mengajarkan berbagai macam jenis ilmu warisan Wali Songo yang didapatkan dari mendiang gurunya.
Perihal ilmu-ilmu warisan para leluhur, menurut mitos masyarakat Jawa,  ada anggapan apabila seseorang memiliki ilmu kebal,

pengasihan, ilmu mata batin  atau ilmu kejawen lainnya dapat menimbulkan kesialan dalam hidupnya seperti seret rezeki, bisa sakit jiwa atau gila jika tidak kuat menyimpannya dalam raga, menderita menjelang sakaratul maut, matinya susah, dan lain sebagainya. Anda jangan mudah percaya karena semua itu hanyalah mitos yang tak dapat dibuktikan kebenarannya. Kebanyakan orang yang menguasai ilmu ghaib akan menjadi sombong dan malas bekerja, hanya mengharapkan orang datang meminta pertolongannya lalu menyelipkan beberapa lembar rupiah ketika bersalaman. Jadi bukan karena Ilmunya yang menjadikannya sial dan miskin namun penyalah gunaannya.

“Sebetulnya baik buruk efek Ilmu Gaib tergantung pemiliknya, bagaimana ia mengamalkannya, bagaimana niat mempelajarinya dan bagaimana ia menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Bisa saja Allah menghukum dengan cara menbyulitkan rejeki,  menyiksa saat datangnya ajal atau hukuman lain karena orang tersebut sombong dan suka menindas orang lain dengan ilmunya, bukankah kita selalu dalam kekuasaan Allah. Oleh sebab itu jadilah orang yang sabar dan rendah hati supaya Anda disegani orang lain. Akan tetapi apabila Anda sangat terdesak silahkan menggunakan ilmu jawa ini sesuai kemampuan dan bukan untuk melumpuhkan lawan,”jelasnya panjang lebar.
 

Mengunjungi Makam Wali Allah, Sultan Suriansyah

Makam Sultan Suriansyah   S ultan Suriansyah, berasal dari keturunan raja-raja Kerajaan Negara Daha. Ia merupakan Raja Banjar pertama yan...