Senin, 11 Desember 2017

Misteri Dialog Sunan Kalijaga Dengan Sunan Lawu

Konon, Prabu Brawijaya memilih mengasingkan diri di gunung Lawu lantaran menghindari kejaran anaknya, Raden Patah. Prabu Brawijaya menghindari pertumpahan darah karena menolak mengikuti aliran kepercayaan yang dianut Raden Patah.

Beliau juga mendapat wangsit bahwa kejayaan Majapahit dengan kepercayaan Hindu akan pudar, dan diganti dengan kejayaan kerajaan baru yaitu Demak, yang dipimpin putranya, Raden Patah.
Keberadaan Prabu Wijaya di Gunung Lawu ditandai dengan adanya batu nisan yang dipercaya sebagai petilasan. Penduduk sekitar menyebutnya Sunan Lawu. Tempat itupun dikeramatkan hingga kini.

Seorang spiritual Jawa sekaligus juru kunci Gunung Malang yang merupakan anak Gunung Lawu, Budiyanto, mengatakan, Lawu menjadi salah satu pusat budaya dan tempat sakral di Pulau Jawa.
Sunan Kalijaga berkata “Namun lebih baik jika Paduka berkenan berganti syariat rasul, dan mengucapkan asma Allah. Akan tetapi jika Paduka tidak berkenan itu tidak masalah. Toh hanya soal agama. Pedoman orang Islam itu syahadat, meskipun salat dingklak-dingkluk jika belum paham syahadat itu juga tetap kafir namanya.”

Sang Prabu berkata, “Syahadat itu seperti apa, aku koq belum tahu, coba ucapkan biar aku dengarkan “

Sunan Kalijaga kemudian mengucapkan syahadat, asyhadu ala ilaha ilallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, artinya “aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Kanjeng Nabi Muhammad itu utusan Allah. “

Sunan Kalijaga berkata banyak-banyak sampai Prabu Brawijaya berkenan pindah Islam, setelah itu minta potong rambut kepada Sunan Kalijaga, akan tetapi rambutnya tidak mempan digunting.
Sunan Kalijaga lantas berkata, Sang Prabu dimohon Islam lahir batin, karena apabila hanya lahir saja, rambutnya tidak mempan digunting. Sang Prabu kemudian berkata kalau sudah lahir batin, maka rambutnya bisa dipotong.
Sang Prabu setelah potong rambut kemudian berkata kepada Sabdapalon dan Nayagenggong,
“Kamu berdua kuberitahu mulai hari ini aku meninggalkan agama Buddha dan memeluk agama Islam. Aku sudah menyebut nama Allah yang sejati. Kalau kalian mau, kalian berdua kuajak pindah agama rasul dan meninggalkan agama Buddha.”

Sabdo Palon Nayagenggong Ternyata Bukan Manusia atau jin Namun Hanya Sebuah Kitab
Saya menambahkan mengenai Sabdo Palon Nayagenggong. Sabda :ucapan/berita/tulisan/ajaran. Palon : Semesta/alam/Dunia Macro cosmos dan Micro cosmos. Nayagenggong : untuk kesejahtearaan, kedamaian dan kesatuan.

Saya tidak sependapat Sabdo Palon adalah seorang manusia, sabdopalon adalah sebuah kitab yang dibuat oleh Beliau yang berjulukan Beliau yang kesepuluh.

Isi buku tersebut adalah mengupas semua kitab suci yang diturunkan Allah melalui Nabi. Jadi Kitab Sabdopalon adalah kitab tersirat dari segala kitab suci allah. jadi bukan seperti yang beredar sekarang.kita harus waspada terhadap pengadu domba/pemfitnah.

Cerita mengenai dialog Prabu Brawijaya V dengan seseorang yang tidak mau masuk Islam adalah dimana Prabu Brawijaya V menerima putra mahkota Majapahit (pengganti Brawijaya V) dimana sang putra mahkota menolak mengganti ayahandanya Brawijaya V dengan alasan Putra mahkota tidak mau kerajaan yang beragama Hindu sebagai agama kerajaan diganti agama kerajaan menjadi agama Islam. Sehingga Putra mahkota tersebut bergelar Raden Gugur dan beliau menjadi Pertapa di gunung Lawu .

Raden Gugur ketika meninggalkan Istana beliau bersabda bahwa agama islam diperkenankan menebarkan agama islam dengan catatan bila agama islam tersebut tidak menjadikan agama yang menjadikan umatnya,damai,sejahtera dan bersatu dan saling menghormati agama lain aku akan menagih janji kepada para ulama dan pemimpin bangsa nusantara.

Dengan aku memimpin rakyat kecil turun menuju kota besar untuk meminta keadilan,kesejahteraan,kedamaian. Kemunculan aku dengan tandanya para sepuh akan turun gunung, gunung-gunung meletus,bencana alam dan manusia dimana-mana.

Dengan kepergian Putra mahkota/raden gugur Prabu Brawijaya V menjadi gundah/bingung sehingga beliau mencari pendapat siapakah kelak pengganti dirinya,intrik istanapun berkerja.beliau mendapat berita bahwa Raden Patah sedang memimpin penyerbuan ke Madjapahit.

Sehingga Prabu Brawijaya pergi meninggalkan Istana menuju ke Blambangan untuk minta bantuan dari kerajaan dari Bali. sementara kedatangan raden rahmat adalah utusan raden patah yang akan menghadap Ayahnya Prabu Brawijaya tetapi dijalan dihadang oleh kelompok yang ingin merebut kekuasaan kerajaan. sehingga raden patah mendapat berita bahwa ayahnya sedang mendapat tekanan/kudeta sehingga mengirim pasukan untuk membebaskan ayahnya,sementara

Prabu Brawijaya V mendapat berita bahwa anaknya akan menyerbu Kerajaan Madjapahit.Dalam pelarian Prabu Brawijaya, Raden Said (Sunan Kalijaga) menyusul Prabu BrawijayaV. Terjadilah pertemuan di Blambangan, dimana Raden Said menghentikan niat Prabu Brawijaya V meminta bantuan dari kerajaan di Bali.

Dimana dialog tersebut, Raden Said mengatakan kepada Prabu Brawijaya V, bahwa yang datang ke Madjapahit adalah Putra beliau sendiri yang bernama Raden Patah, dan raden patah tidak bermaksud menguasai kerajaan tetapi ingin membebaskan Prabu dari tangan pemberontak.
Setelah Prabu Brawijaya V mendengar penjelasan dai Raden Said. maka beliau tidak jadi menyeberang ke Bali dan ingin kembali ke Madjapahit. kemudian Prabu Brawijaya minta pendapat kepada Raden said.

Siapakah yang berhak menjadi pengganti Prabu Brawijaya V, oleh Raden Said diusulkan Raden Patah(anak Prabu Brawijaya v dengan Putri Cina) kemudian disetujui oleh Prabu Brawijaya V.
Raden Said (Sunan Kalijaga) kemudian meminta kesediaan untuk Prabu Brawijaya V Masuk agama islam untuk membuktikan pengakuan Raja telah menyetujui Raden Patah menjadi pengganti Prabu Brawijaya V dan agama kerajaan Madjapahit menjadi agama Islam.

Prabu Brawijaya V menyetujui kemudian Raden Said men Baiat Prabu dengan 2 kalimat syahadat. Prabu Brawijaya V meminta kepada Raden Said khusus untuk Membaca 2 Kalimat Syahadat, Prabu Brawijaya V mau melakukan tetapi tanpa asyhadu (saya bersaksi).

Dimana intinya Prabu Brawijaya V tidak berani dan sanggup yang disebabkan faktor usia dan ketidak sanggupan Prabu Brawijaya melaksanakannya. dimana kata asyhadu (bersaksi kepada tuhan) adalah sangat berat , terjadilah dialog yang sangat panjang.

Yang diakhiri oleh suatu percakapan dimana Prabu Brawijaya V mengatakan kepada Raden Said (Sunan Kalijaga) bila beliau salah dalam mengucapkan 2 kalimat syahadat tanpa asyhadu maka air danau tempat saya mengucap menjadi bukti besok bila wangi maka permohonan saya dikabulkan oleh Allah SWT.

Dan bila besok air danau ini bau anyir maka saya mengulangi membaca 2 kalimat syahadat dengan asyhadu. ternyata keesokan harinya air danau terebut berbau wangi “Kuasa Allah amat mulia dan meliputi semuanya” dan sekarang disebut kota Banyuwangi.
Dalam perjalanan pulang Sunan Kalijaga mengiringi Prabu Brawijaya V dan tiada hentinya Sunan Kalijaga dan Prabu Brawijaya V membicarakan agama Islam.

Sesampai kembali di Kerajaan Madjapahit Prabu Brawijaya menanyakan kepada Sunan Kalijaga tentang keberadaan Raden Patah, rupanya Takdir berkata lain Raden Patah ketika ditanyakan keberadannya oleh Prabu Brawijaya V berhalangan/bersimpangan jalan dan ketika terakhir kali ditanyakan oleh Prabu Brawijaya V kepada Raden Said duduk disebelah Raden Said seorang pemuda yang ditanyakan oleh Prabu Brawijaya V siapakah dia dan Raden Said menjawab ia adalah Bondan Kejawen putra Prabu juga.

Sehingga Prabu mengucapkan kepada Raden Said bahwa Raden Patah akan memimpin Kerajaan Islam pertama di nusantara dan kerajaan tersebut hanya satu periode (Demak) dan sebagai penerus kerajaan nusantara adalah keturunanku yang lain dari Bondan Kejawan.

Karena Usia Prabu Brawijaya V sudah Lanjut dan beliau wafat tidak dapat bertemu juga dengan Raden Patah, dan pesan Prabu Brawijaya V makam ku dinamakan “Makam Putri Cempa”.
Sangatlah sayang Sabdopalon yang merupakan kitab diplesetkan jadi orang dan dibuat sarana untuk mengadu domba. maka kita jangan terjebak oleh kitab-kitab apalagi jaman penjajahan belanda buku-buku tersebut diambil dan dikembalikan dengan sudah dirubah.

Seperti fakta yang ada dan sangat disayangkan Candi Borobudur pada Tingkat pertama dan kedua oleh belanda dikubur/ditanam agar kita generasi penerus tidak dapat mengetahui. Tingkat pertama dan kedua terdapat relief kehidupan manusia, dimana manusia berbuat apa yang terjadi dalam kehidupannya.

Jadi  untuk mempelajari buku-buku kuno, harus berpegangan kepada budaya adi luhur pendahulu dan bila tidak cocok, mencoba untuk mengartikan apa yang hendak dipesan lewat tulisan itu apakah simbol atau bikinan Belanda atau anteknya, sehingga kita selalu terbawa arus adu domba dan pembodohan terus.


Jumat, 03 November 2017

Makna Ajaran Tauhid Cara Semar

Apakah Anda pernah nonton pertunjukkan wayang kulit? Apa yang bisa kita nikmati sekaligus diambil dari sesosok wayang yang notobenenya hanya sebuah modifikasi dari kulit hewan tersebut? Jawabannya ternyata banyak sekali. Tergantung dari mana kita mengambil titik koordinat untuk menikmati sekaligus mengapresiasi dan menginterprestasikan sosok wayang yang tersaji dalam pegelaran wayang tersebut. Diakui atau tidak dalang memegang kendali dari nilai seni dan keilmuan yang terkandung dari tutur tinular tersebut. Lakon wayang akan menjadi hidup jika sang dalang mampu membawa lakon wayang dengan baik dan menarik.

Pada adegan peperangan misalnya, dalang harus mampu memiliki ketrampilan “sabetan” yang cukup baik. Selain itu, dalang harus mampu memainkan adegan-adegan yang sesuai dengan pakemnya, misalnya adegan wayang yang tengah gembira, maka sang dalang juga harus mampu menghadirkan ekspresi gembira. Begitu pula ketika dituntut untuk menghadirkan adegan-adegan sedih, seorang dalang juga harus mampu bersikap mancolo putro mancolo putri agar penonton terbawa dan menghayati setiap lakon yang dimainkan.

Keahlian sekaligus kelihaian dalang tidak berhenti atau cukup di situ saja. Kepintaran bersikap mancolo putro mancolo putri dan harus didukung ilmu kebudayaan dan ketuhanan. Mengapa demikian? Karena dalam sejarah wewayangan, kisah wayang tidak tidak terhenti pada nilai estetika tetapi wayang merupakan media bagi masyarakat. Wayang bagi orang Jawa merupakan compelling riligius mythology, yakni yang menyatukan masyarakat Jawa secara menyeluruh, baik secara horizontal maupun secara vertical. Sedangkan Ward Keeler mengaitkan aspek-aspek tersebut direfleksikan ke dalam kehidupan sosial dan kedudukan relatif sosial.

Kedua ilmuwan tersebut menemukan titik kesaman terhadap wayang yakni pentas wayang menyiratkan tata nilai yang menunjukkan upaya-upaya untuk mencapai keserasian hidup. Keadaan ideal yang wajib dipertahankan itu berupa keseimbangan tata tertib sosial yang digambarkan sebagai suatu masyarakat yang adil, tentram, makmur dan aman.

Nilai ketuhanan, tauhid, yang tertanam di ruh masyarakat Jawa memang kebanyakan berasal dari nilai kebudayaan, salah satunya adalah dari wayang. Peran wayang sebagai media penanaman ruh ketuhanan tidak lepas dari kecerdikan walisongo, khususnya Sunan Kalijaga yang metode dakwahnya lebih mengutamakan dengan nilai-nilai kultural masyarakat. Masyarakat Jawa yang masih mengagungkan nilai-nilai kultural akan lebih menerima nilai keagaman jika penyampaiannya itu lebih bersifat halus, sesuai dengan psikologi masyarakat Jawa yang lebih mengedepankan kehalusan budi dibandingkan jika pengajaran itu disampaikan dengan cara-cara indoktrinisasi ekstrem.

Pemahaman mengenai ketauhidan bagi masyarakat Jawa mungkin akan berbeda dengan pemahaman ketauhidan dengan bangsa Timur Tengah. Hal ini dikarenakan adalanya akulturasi budaya Jawa yang dahulunya lebih bersifat dinamisme dan animisme dengan nilai ketuhanannya yang berasal dari Timur Tengah yang juga sudah diolah secara rasa maupun karsa oleh pendakwah yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Sedangkan tauhid sendiri mempunyai arti yang sangat luas dan untuk memudahkan pemahaman kita mengenal ilmu ketauhidan ini, tauhid diartikan sebagai sikap peng-esa-an terhadap keeksistensian Tuhan. Sifat keesaan ini menjadi penting bagi umat Islam dan menjadi identitas sekaligus pembeda dengan agama-agama lain. Bertauhid dalam agama Islam tidak sekedar mempercayai akan adanya satu Tuhan tetapi lebih dari itu. Pengesaan ini juga harus ada tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Manusia beragama setidaknya harus dapat menangkap dan meniru perilaku Tuhan, seperti sifat Rahman dan Rahim-Nya.

Masalah ketauhidan dalam masyarakat Jawa lebih condong kearah masalah kemakrifatan, yakni memahami siapa dirinya serta siapa yang menciptakannya. Sangkan paraning dumadi menjadi wilayah sentral yang sering menjadi kajian sekaligus menjadi tujuan manusia Jawa dalah meng-illah-kan Tuhan. Hubungan personal manusia Jawa dengan Tuhannya sepertinya lebih menarik untuk didalami dibanding mengkaji masalah syari’atnya,. Sehingga tak ayal muncullah konsep manunggaling kawula-Gusti, sebuah konsep penyatuan hamba dengan Tuhannya.

Hal ini kemudian menginspirasi para walisongo bagaimana caranya agar konsep tersebut bisa diterima masyarakat dan tidak mengalami shock dalam beragama. Wayang adalah jawabannya. Dalam cerita wayang dengan lakon Bima Suci diceritakan bahwa setelah Bima bersatu dengan Dewa Ruci dan mendapat wejangan spiritual darinya, ia (Bima) segera mendirikan pertapaan Argakelasa dengan gelar Bima Suci atau Bima Paksa yang mengajarkan ilmu kesempurnaan hidup.

Menurut Damarjati Supadjar, serat Bima Suci menggambarkan pertemuan eksistensi dengan esensi, yang juga dikenal sebagai ngluruh sarira atau racut, mencair, dan melarut. Tranformasi Bima menjadi Bima Suci atau pertemuan Bima dengan jati dirinya atau Dewa Ruci serupa dengan pertemuan antara Musa dan Khidir. Hasilnya adalah kesadaran kosmis, kesatuan lahir dan batin, awal akhir.

Orang Jawa mengenal tokoh-tokoh wayang cukup familiar dan di antaranya yang paling favorit bahkan mempunyai nilai sakral adalah semar. Semar menjadi tokoh utama dalam segala hal, baik sebagai tokoh yang berperan sebagai abdi, penasehat kenegaraan maupun spiritual. Dalam pewayangan diceritakan bahwa semar tinggal di Karang dempel, maksudnya Semar selalu tinggal dan menyirami hati setiap hati manusia yang gersang, gelisah, dan jauh dari Tuhan. Sehingga bisa dikatakan bahwa semar selalu hadir dan menyantuni orang miskin/kekurangan kebutuhan rohani.

Selain itu, semar juga diperintahkan untuk menjaga hati manusia-manusia suci agar tidak terkontaminasi oleh sifat dan nafsu syaithaniyah. Karena itu dalam pewayangan dikatakan bahwa ia diperintahkan untuk menguasai alam sunyaruri atau alam kosong dan tidak diperkenankan menguasai manusia di alam dunia. Maksudnya dari alam kosong adalah alam yang kosong dari cahaya Ilahi yang kemudian Semar diperintahkan untuk mengisi alam kosong tersebut dengan kebutuhan-kebutuhan rohani yang berguna bagi manusia.

Sosok semar hadir untuk menegaskan mengenai arti pentingnya peran agama dalam kehidupan. Agama berperan menyadarkan manusia dan membawa mereka menuju cahaya. Sosok Semar juga merupakan symbol al-Qur’an sebagai kalam Ilahi yang sangat penting, yang di dalamnya memiliki beberapa tujuan mendasar, yaitu:
§  Membersihkan akal dan menyucikan jiwa dari segala bentuk syirik,
§  Menciptakan kemanusiaan yang adil dan beradab,
§  Menciptakan persatuan dan kesatuan alam, baik alam fisik dengan metafisik dan masih banyak lagi tujuan yang dibawa oleh sosok Semar dalam pentas pewayangan.

Dari sosok Punakawan, baik fisik maupun kehidupan kesehariannya, terkandung pancaran nilai-nilai ketasawufan. Dalam Islam, aspek tasawuf dipercaya dapat membawa manusia lebih mendekatkan diri kepada Allah. Dan dalam pencapaiannya, manusia harus menempuh maqomat kesufian yang tercermin dari Semar

Semar setidaknya memiliki sifat: wijaya (bijaksana dalam berbakti kepada Negara), mantriwira (dengan senang hati berbakti kepada Negara), wicaksana maya (bijaksana dalam berbicara dan bertindak), matangwan (dikasihi dan dicintai rakyat), satya bakti prabu (setia kepada Negara dan raja), wakniwak (tidak berpura-pura), seharwan pasaman (sabar dan sareh, tidak gugup dalam hati), dirut saha (jujur, teliti, sungguh-sungguh dan setia), tan lelana (baik budi dan mengendalikan panca indera), diwiyacita (menghilangkan kepentingan pribadi), masisi samastha buwana (memperjuangkan kesempurnaan diri dan kesejahteraan dunia). Dan masih banyak sifat panakawan yang mengarah kepada konsep hidup ala sufi.   


Minggu, 10 September 2017

Moh Limo, Ajaran Sunan Ampel Perbaili Moral Pangeran Majapahit

Komplek Makam Sunan Ampel
Sejak menempa ilmu agama di Ampel Denta, Surabaya, Jawa Timur, Sayyid Ali Rahmatullah atau Raden Rahmat alias Sunan Ampel mengajarkan para muridnya untuk menjauhi lima hal yang bisa merusak aqidah. 

Ajaran itu adalah Moh Limo (lima larangan). Falsafah dalam istilah bahasa Jawa ini, diilhami dari kondisi akhlak masyarakat semasa pemerintahan Prabu Brawijaya V di Majapahit.

Masa itu, para pangeran dan bangsawan hidup berfoya-foya, judi, mabuk-mabukan dan main perempuan. Mihat kondisi ini, Prabu Brawijaya sadar, jika terus dibiarkan, Majapahit akan hancur. Guru spiritual keagamaan pun didatangkan dari Negeri Campa yang tak lain adalah Sunan Ampel.

Sunan Ampel didatangkan atas saran Dwarawati Murdiningrum, istri Brawijaya. Sunan Ampel dihadiahi sebidang tanah di Ampel Denta, Surabaya dan dinikahkan dengan salah satu putrinya, Dewi Candrawati atau Nyai Ageng Manila.

Raden Rahmat pun mendirikan Pondok Pesantren di Ampel Denta dan bergelar Sunan Ampel. Di tempat ini, Sunan Ampel mengajarkan budi pekerti kepada para bangsawan dan pangeran Majapahit berdasarkan syariat Islam. Rakyat jelata pun ikut nyatri, belajar agama bersama-sama di Ampel Denta.

"Hasil didikan Sunan Ampel yang terkenal adalah falsafah Moh Limo. Dan sampai sekarang, para ustaz atau mubalig-mubalig, tak jarang memakai istilah Moh Limo dalam tiap dakwahnya," terang Abdul Rahman, salah satu peziarah makam Sunan Ampel kepada merdeka.com.

Moh Limo atau lima larangan adalah Moh Main atau tidak mau berjudi, Moh Mendem atau tidak mau minum arak atau mabuk-mabukan, Moh Maling atau tidak mau mencuri, Moh Madat atau tidak mau mengisap candu, ganja dan lain-lain sebagainya, Moh Madon atau tidak mau berzina atau main perempuan.

Dan atas hasil didikan Sunan Ampel kepada kaum bangsawan dan pangeran Majapahit ini, Prabu Brawijaya sangat senang. Dia menilai Islam adalah ajaran budi pekerti mulia.

Brawijaya pun membebaskan Sunan Ampel menyebarluaskan ajaran Nabi Muhammad itu di Tanah Jawa. Dengan catatan, tidak memaksa para pemeluk Agama Hindu dan Budha berpindah aqidah. Islam harus disebarkan tanpa paksaan dan ancaman.

"Sunan Ampel pun menjelaskan, memang dalam Islam tidak diperkenankan memaksa seseorang pindah keyakinan. Islam harus dipeluk atas kesadaran diri sendiri tanpa paksaan. Islam adalah agama Rahmatan lil Alamin," kata Abdul Rahman mengisahkan jawaban Sunan Ampel kepada Brawijaya.

"Dalam ajaran Islam ada ayat Alquran yang menjelaskan itu, yaitu Lakum Diinukum wa liyadiin. Yang artinya, bagimu agamamu dan bagiku agamaku," sambungnya mengutip penggalan surah Al Kafirun ayat ke-6.

Namun ketika Brawijaya diajak memeluk Islam oleh Sunan Ampel, seperti yang pernah dilakukan Sunan Gresik, Brawijaya tetap menolak membaca dua kalimat syahadat. Alasannya, Brawijaya ingin menjadi raja pemeluk Hindu terakhir di Majapahit.


Deskripsi Nafsu Manusia dalam Gamelan Singo Mengkok Sunan Drajat

Gamelan Singo Mengkok
Kiprah para Wali Songo zaman dahulu tatkala dalam menyebarkan ajaran Islam, tidak secara langsung memasukkan unsur bahasa dan budaya Arab kepada masyarakat Jawa. Seperti halnya dengan Sunan Drajat, beliau dalam penyebarkan ajaran Islam diawali  dengan menyampaikan serta menyesuaikan kultur masyarakat tersebut.

Salah satunya adalah dengan cara menyampaikan pitutur dan ajaran Islam tersebut    dengan menyanyikan tembang Pangkur. Tembang tersebut diiringi oleh gamelan Singo Mengkok.

Gamelan Singo Mengkok adalah salah satu alat musik yang sering dimainkan oleh Sunan Drajat. Di bagian bawah gamelan tersebut terdapat ukiran patung berbentuk singa yang sedang membungkuk. Singa tersebut menghadap ke depan dan sepintas mirip dengan garudayana.

Simbol Singo Mengkok ini mempunyai arti yang dalam. Makna simbolisnya yang pertama adalah Singo. Singo dalam bahasa Jawa berarti singa yang menjadi perwakilan dari tingkah laku kehewanan. Dalam hal ini dimaknai sebagai hawa nafsu manusia.

Sementara mengkok merupakan bahasa Jawa yang bisa diartikan sebagai bengkok yang digambarkan dalam ukiran singa yang sedang membungkuk. Singa yang menunduk ini dideskripsikan sebagai singa yang menahan hawa nafsu dan hanya tunduk di hadapan penciptanya.

"Hewan saja bisa menahan nafsu. Masak manusia enggak bisa. Kan malah memalukan," ujar penjaga Museum Sunan Drajat, Nurhayati di kompleks Makam Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur.

Menurut cerita Nurhayati, di era Sunan Drajat masyarakat masih terkungkung pada hawa nafsu dan kebanggaan untuk mengumbar diri. Dengan gamelan ini Sunan Drajat menyampaikan nasehat sekaligus gambaran masyarakat di era itu.

Gamelan ini merupakan peninggalan Sunan Drajat yang paling berarti. Sebab gamelan tersebut yang telah berjasa menjadi sarana penyebaran agama Islam.

Rabu, 06 September 2017

Ilmu Kerejekian Warisan Wali Songo

Untuk mendapatkan rizqi yg mudah dan melimpah ruah dengan cara yg islami,tidak mengandung unsur syirik.maka jalani tata cara di bawah ini dengan tulus ikhlas :
1.Selama 40 hari selalu menolong orang setiap harinya.walau hanya mencabutkan satu rumput orang atau membuang duri di jalan.
2.Selama 40 hari kalau ada selalu sedekah walau hanya secuil makanan atau seteguk air pada yg memerlukan.untuk lebih mudahnya,setiap hari menaruh air minum di tempat umum agar di minum orang yg kehausan.
3.Selama 40 hari jangan sampai durhaka atau menyakiti hati orang.

Untuk menjalani tata cara ini supaya di mulai pada hari ahad atau rabu.
Sebelum menjalani tata cara ini supaya mohon ma’af dan minta doa restu kepada orang tua.kalau sudah wafat ziarahi kuburnya dan minta doa restu pada kyai atau guru ngajinya.

Selama 40 hari,setiap malamnya sekitar jam 12 malam mengerjakan shalat hajat.kemudian membaca amalan berikut ini :

1.Tawassul
BISMILLAHIR ROHMANIR ROHIM.
ILA HADHROTI ROSULILLAHI MUHAMMADIN.SAW.
WA ILA HADHROTI MALAIKATI JIBRIL,ISROFIL,’IZROIL,MUNKAR,NAKIR,ROQIB,’ATID,MALIK,RIDWAN.
WA ILA HADHROTI SHULTHONIL AULIYA SYAIKH ‘ABDUL QODIR JAILANI.
WA KHUSHUSHON ASATIDZI WA ASATIDZIHIM ILA SHOHIBIL IJAZAH WA ABI WA UMMI WA JAMI’I USHULI.
KHUSHUSHON WALI SONGO AL FATIHAH…..(7 x)

2.Do’a
BISMILLAHIR ROHMANIR ROHIM.
ALLAHUMMA SHOLLI WA SALLIM ‘ALA SAYYIDINA MUHAMMAD.
YA ALLAH YA FATTAHU YA ROZZAQU YA MU’THIYYU YA MU’INU YA WADUDU YA MUJIBU.IKFINI YA KAFI.YA HU SHIFATULLAH YA HU DZATULLAH YA HU AF’ALULLAH YA HU WUJUDULLAH YASSIRLI RIZQI (di baca 40 x)

Ilmu ini banyak sekali rahasianya,di antaranya bila seseorang yg telah menjalani amalan ini,semakin ta’at beribadah serta berbuat baik kepada sesama manusia,maka akan semakin barokah umurnya,banyak rezekinya dan selalu mendapat kemudahan dalam setiap keperluan hidupnya.dan setelah menjalani tata cara 40 hari,maka harus tetap membaca do’anya sebanyak 7 x setiap habis shalat shubuh dan shalat maghrib.


Ilmu Kejawen Islam Warisan Wali Songo

Kiprah para Wali Songo   di Tanah Jawa merupakan bukti penyebaran ajaran Islam yang telah meluas hingga sampai saat ini. Sembilan wali yang tersebar di tanah Jawa sering disebut dengan Wali Songo yang ada sejak abad ke-17. Semua wali ini tinggal di tiga wilayah penting yang ada di Pulau Jawa, meliputi wilayah Surabaya meliputi daerah Gresik dan Lamongan (Jawa Timur), kemudian wilayah Kudus dan Demak (Jawa Tengah dan wilayah Cirebon (Jawa Barat).
Kedatangan dan keberadaan para Wali Songo di tanah Jawa hingga  merupakan era berakhirnya kepercayaan Hindu-Budha di Indonesia khususnya di Tanah Jawa itu sendiri. Kebudayaan Islam kemudian merajai Nusantara dan menjadi kepercayaan Mayoritas hingga saat ini. Tanah Jawa yang sangat potensial sebagai daerah penyebaran agama menjadi wilayah yang baik bagi Wali Songo untuk menyebarkan agama Islam hingga mampu menggeser keberadaan budaya Hindu Budha.
Bermula dari keberadaan Kerajaan Islam di Pulau Jawa lah walisongo berkembang. Tak hanya walisongo namun juga tokoh Islam lain yang menjadi bagian dari Kerajaan Islam di Jawa. Peranan mereka (walisongo) yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Tanah Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat para Walisongo ini lebih banyak disebut dibanding tokoh pendiri Islam lainnya. Kekuatan juga ilmu-ilmu walisongo yang diajarkan membuat para wali semakin disambut hangat dari berbagai kalangan, khususnya mereka yang senang akan ilmu walisongo ini.
Di Tanah Jawa sendiri, Walisongo lahir dengan ilmu-ilmu yang mengajarkan kepada kebaikan dan ke-ISLAM-an. Sudah banyak ilmu warisan Wali Songo  yang ditinggalkan dan masih lestari hingga saat ini, karena banyak pecinta ilmu hikmah dan ilmub spiritual yang mempelajarinya. Bahkan, para ulama dan pakar ilmu spiritual secara sengaja membuat sebuah padepokan untuk mengajarkan dan melestarikan ajaran ilmu WaliSongo ini agar tetap lestari sampai kiamat nanti. Salah satunya adalah Tokoh Spiritual Gus Cokro ST, di mana saat ini di padepokannya, beliau banyak mengajarkan berbagai macam jenis ilmu warisan Wali Songo yang didapatkan dari mendiang gurunya.
Perihal ilmu-ilmu warisan para leluhur, menurut mitos masyarakat Jawa,  ada anggapan apabila seseorang memiliki ilmu kebal,

pengasihan, ilmu mata batin  atau ilmu kejawen lainnya dapat menimbulkan kesialan dalam hidupnya seperti seret rezeki, bisa sakit jiwa atau gila jika tidak kuat menyimpannya dalam raga, menderita menjelang sakaratul maut, matinya susah, dan lain sebagainya. Anda jangan mudah percaya karena semua itu hanyalah mitos yang tak dapat dibuktikan kebenarannya. Kebanyakan orang yang menguasai ilmu ghaib akan menjadi sombong dan malas bekerja, hanya mengharapkan orang datang meminta pertolongannya lalu menyelipkan beberapa lembar rupiah ketika bersalaman. Jadi bukan karena Ilmunya yang menjadikannya sial dan miskin namun penyalah gunaannya.

“Sebetulnya baik buruk efek Ilmu Gaib tergantung pemiliknya, bagaimana ia mengamalkannya, bagaimana niat mempelajarinya dan bagaimana ia menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Bisa saja Allah menghukum dengan cara menbyulitkan rejeki,  menyiksa saat datangnya ajal atau hukuman lain karena orang tersebut sombong dan suka menindas orang lain dengan ilmunya, bukankah kita selalu dalam kekuasaan Allah. Oleh sebab itu jadilah orang yang sabar dan rendah hati supaya Anda disegani orang lain. Akan tetapi apabila Anda sangat terdesak silahkan menggunakan ilmu jawa ini sesuai kemampuan dan bukan untuk melumpuhkan lawan,”jelasnya panjang lebar.
 

Kamis, 31 Agustus 2017

Ilmu Karomah Penerawangan, Ajaran Wali Songo

Berbagai macam jenis ilmu yang ada di jagat spitual, masing-masing memiliki keistimewaan tersendiri, salah satunya adalah Ilmu Karomah Penerawanagn. Ilmu ini sangat dasyat manfaatnya, yakni dapat melihat benda-benda yang tidak bias dilihat oleh mata biasa . Dengan memiliki Ilmu Penerawangan ini, maka pemiliknya mampu dengan leluasa melihat hal-hal atau benda  pusaka dan lain sebagainya, 

Ilmu ini menurut Gus Cokro ST, yang  juga memiliki ilmu penerawangan dari gurunya tersebut menjelaskan, bahwa Ilmu Karomah Penerawangan ini, masih  banyak masyarakat yang ingin mempelajarinya. Kendati zaman sudah maju, tapi toh buktinya masyarakat tetap antusias untuk mempelajari ilmu dasyat tersebut.

Hal-hal yang  tersembunyi atau hal yang tidak dapat diketahui oleh mata biasa, akan Nampak jelas di mata pemilik Ilmu Karomah Penerawangan. Menurut Gus Cokro ST, Ilmu Karomah Penerawangan ini dulunya juga dimiliki oleh para penyebar  agama Islam atau  yang kita kenal sebutan Wali Songo. Turun-temurun nampaknya ilmu tersebut sampai ke generasi Gus Cokro ST, yang kemudian dengan semangatnya, Gus Cokro ST berbagi keilmuannya kepada masyarakat yang membutuhkannya.

“Apabila anda memiliki keinginan untuk dapat memiliki kemampuan keberadaan benda-benda pusaha yang "siningit = tersembunyi", maka anda dapat melakukan lelaku/olah bathin seperti berikut ini. Kendati demikian peminat tetap harus mendapatkan bimbingan dari orang yang mampu atau tahu hal spiritual,: tandas Gus Cokro ST.

PERSYARATAN KHUSUS :

1. Anda telah mampu menguasai ilmu deteksi getaran/kepekaan yang cukup baik di bidang olah kanuragan maupun seni pernafasan tenaga dalam...

2. Memiliki keyakinan yang kuat akan kebesaran Tuhan Sang Pencipta Alam semesta beserta isinya ini baik yang nampak maupun yang ghaib...

3. Taat beribadah...

4. Tidak bersifat serakah, sombong, dan berpandangan sempit...

5. Tidak mudah pantang menyerah, tekun dan istiqomah dalam segala sesuatu, khususnya dalam mengamalkan sebuah lelaku ilmu...

CARA LELAKU = OLAH BATHIN :

1. Sebagai pembuka, usahakan untuk berpuasa 1 hari tepat pada hari kelahiran anda sesuai dengan penanggalan Jawa (weton)...

2. Dengan diawali lelaku pada pukul 12 malam untuk terlebih dahulu mandi besar dan melaksanakan 2 rokaat sholat hajat...(Dengan catatan : Anda belum tidur pada saat itu)

3. Membaca asma Allah : "YAA MUBIIN" sebanyak 1.000x bacaan...

4. Kemudian lakukan makan sahur dengan meninggalkan makanan yang mengandung unsur hewani pada saat itu...

5. Anda dipersilahkan untuk tidur sesaat hingga terbangun...

6. Pada saat anda terbangun..., sesegera mungkin untuk mengambil air wudlu...

7. Lalu duduk majelisan di atas sajadah sambil menunggu ataupun sudah selesai mengerjakan waktu sholat wajib dengan membaca asma' Allah : "YAA MUBIIN"tersebut sebanyak 7.000x ulangan...

8. Hingga akhir lelaku anda, maka setiap hari kerjakan lelaku pengamalan Asma' Allah : "YAA MUBIIN" setiap menjelang tidur dan sesudah tidur dalam hitungan yang sama...

9. Kerjakan terus secara istiqomah lelaku tersebut..., hingga pada saatnya nanti Anda akan diberi karunia dan keistimewaan oleh Allah = Raja Alam Semestakemampuan untuk melihat secara langsung benda-benda pusaka/harta karun yang tersembunyi di dalam perut bumi ataupun yang disembunyikan secara ghaib oleh bangsa siluman (ke-ghaiban).

10. Sekali lagi jangan bersifat serakah...,ambilah secukupnya karena disitulah anda akan diuji oleh Allah seberapa besar tingkat ke-wara'an (maqqom kesederhanaan) anda... 


Mengunjungi Makam Wali Allah, Sultan Suriansyah

Makam Sultan Suriansyah   S ultan Suriansyah, berasal dari keturunan raja-raja Kerajaan Negara Daha. Ia merupakan Raja Banjar pertama yan...