Selasa, 01 Agustus 2017

Menyelami Ajaran Walisongo

1.Ajaran Maulana Malik Ibrahim
Menurut setengah riwayat mengatakan, bahwa beliau berasal dari Persia. Bahkan dikatakan bahwa Maulana Malik Ibrahim beripar dengan raja di negeri Cheermen. Mengenai letak negeri Cheermen itu terletak di Hindustan, sedangkan ahli sejarah yang lain mengatakan bahwa letaknya Cheermen adalah di Indonesia.

Adapun mengenai nama kedua orang tuanya, kapan beliau dilahirkan serta dimana, dalam hal ini belum diketahui dengan pasti. ada yang mengatakan bahwa beliau berasal dari Kasyan (Persia). Bilamana beliau meninggal dunia ? Kalau ditilik dari batu nisan yang terdapat pada makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik, dekat Surabaya terukir sebagai tahun meninggalnya 882 H, atau tahun 1419 M.

Maulana Malik Ibrahim mulai menyiarkan agama Islam di tanah Jawa didaerah Jawa Timur. Dari sanalah dia memulai menyingsingkan lengan bajunya, berjuang untuk mengembangkan agama Islam.Adapun caranya pertama-tama ialah dengan jalam mendekati pergaulan dengan anak negeri. Dengan budi bahasa yang ramah tamah serta ketinggian akhlak, sebagaimana diajarkan oleh Islam, hal itu senantiasa diperlihatkannya didalam pergaulan sehari-hari.

Beliau tidak menentang secara tajam kepada agama dan kepercayaan hidup dari penduduk asli. Begitu pula beliau tidak menentang secara spontan terhadap adat istiadat yang ada serta berlaku dalam masyarakat kita yang masih memeluk agama Hindu dan Buddha itu, melainkan beliau hanya memperlihatkan kaindahan dan ketinggian ajaran-ajaran dan didikan yang dibawa oleh Islam. Berkat keramah tamahannya serta budi bahasa dan pergaulannya yang sopan santun itulah, banyak anak negeri yang tertarik masuk ke dalam agama Islam.

 2.Raden Rahmat (Sunan Ampel)
Sunan Ampel pada masa kecilnya menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, bernama Raden Rahmat, lahir pada tahun 1401 di Champa.  Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya ( kota Wonokromo sekarang)
Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa Raden Rahmat adalah putra Maulana Malik Ibrahim. Menurut beberapa riwayat, nama Maulana Malik Ibrahim juga dikenal sebagai Ibrahim Asmarakandi yang berasal dari Champa dan menjadi raja di sana. Ibrahim Asmarakandi.

Sunan Ampel memiliki silsilah hingga sampai ke Nabi Muhammad SAW, yaitu :
    * Sunan Ampel @ Raden Rahmat @ Sayyid Ahmad Rahmatillah bin * Maulana Malik Ibrahim @ Ibrahim Asmoro bin * Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Khan bin * Ahmad Jalaludin Khan bin* Abdullah Khan bin * Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad,India) bin  * Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin  * Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)  * Ali Kholi' Qosam bin  * Alawi Ats-Tsani bin * Muhammad Sohibus Saumi'ah bin  * Alawi Awwal bin  * Ubaidullah bin  * Ahmad al-Muhajir bin  * Isa Ar-Rumi bin * Muhammad An-Naqib bin  * Ali Uraidhi bin   * Ja'far ash-Shadiq bin * Muhammad al-Baqir bin * Ali Zainal Abidin bin  * Imam Husain bin * Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra bin Muhammad.
Jadi, Sunan Ampel memiliki darah Uzbekistan dan Champa dari sebelah ibu. Tetapi dari ayah leluhur mereka adalah keturunan langsung dari Ahmad al-Muhajir, Hadhramaut. Bermakna mereka termasuk keluarga besar Saadah BaAlawi.

Sunan Ampel sebagai sunan yang “dituakan” di antara delapan Wali Songo lainnya, menjadi Surabaya sebagai pangkal kegiatan ziarah “Wali Songo”. Dan sudah umum, sebelum melakukan ziarah ke makam-makam Wali Songo, Masjid Agung Ampel dan makam Sunan Ampel dijadikan tempat start. Dari sini baru kemudian menuju ke Gresik, Lamongan, Tuban, Gunung Muria, Kudus, Demak dan finish di Cirebon.

Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.”
Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.

3.Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang)
Beliau adalah putera dari Sunan Ampel dalam perkawinannya dengan Nyai Ageng Manila, seorang putera dari Arya Teja, salam seorang Tumenggung dari kerajaan Majapahit yang berkuasa di Tuban. menurut dugaan Sunan Bonang dilahirkan dalam tahun 1465 M, serta wafat pada tahun 1525 M.

Maulana Makhdum Ibrahim, semasa hidupnya dengan gigih giat sekali menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Timur, terutama di daerah Tuban dan sekitarnya. sebagaimana halnya ayahnya, maka Sunan Bonang pun mendirikan pondok pesantran di daerah Tuban untuk mendidik serta menggembleng kader-kader Islam yang akan ikut menyiarkan agama Islam ke seluruh tanah Jawa. konon beliaulah yang menciptakan gending Dharma serta berusaha mengganti nama-nama hari nahas/sial menurut kepercayaan Hindu, dan nama-nama dewa Hindu diganti dengan nama-nama malaikat serta nabi-nabi. Hal mana dimaksudkan untuk lebih mendekati hari rakyat guna diajak masuk agama Islam.

Karya dan Ajaran
Karya Sunan Bonang, puisi dan prosa, cukup banyak. Di antaranya sebagaimana disebut B Schrieke (1913), Purbatjaraka (1938), Pigeaud (1967), Drewes (1954, 1968 dan 1978) ialah Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Regok, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Ing Aewuh, Suluk Pipiringan, Suluk Jebeng dan lain-lain. Satu-satunya karangan prosanya yang dijumpai ialah Wejangan Seh Bari. Risalah tasawufnya yang ditulis dalam bentuk dialog antara guru tasawuf dan muridnya ini telah ditranskripsi, mula-mula oleh Schrieke dalam buku Het Boek van Bonang (1913) disertai pembahasan dan terjemahan dalam bahasa Belanda, kemudian disunting lagi oleh Drewes dan disertai terjemahan dalam bahasa Inggris yakni The Admonition of Seh Bari (1969).

Dalam Suluk Wujil, yang memuat ajaran Sunan Bonang kepada Wujil pelawak cebol terpelajar dari Majapahit yang berkat asuhan Sunan Bonang memeluk agama Islam sang — wali bertutur:
Jangan terlalu jauh mencari keindahan
Keindahan ada dalam diri
Malah jagat raya terbentang dalam diri
Jadikan dirimu Cinta
Supaya dapat kau melihat dunia (dengan jernih)
Pusatkan pikiran, heningkan cipta
Siang malam, waspadalah!
Segala yang terjadi di sekitarmu
Adalah akibat perbuatanmu juga
Kerusakan dunia ini timbul, Wujil!
Karena perbuatanmu
Kau harus mengenal yang tidak dapat binasa
Melalui pengetahuan tentang Yang Sempurna
Yang langgeng tidak lapuk
Pengetahuan ini akan membawamu menuju keluasan
Sehingga pada akhirnya mencapai TuhanSebab itu, Wujil! Kenali dirimu
Hawa nafsumu akan terlena
Apabila kau menyangkalnya
Mereka yang mengenal diri
Nafsunya terkendali
Kelemahan dirinya akan tampak
Dan dapat memperbaikinya

Dengan menyatakan `jagat terbentang dalam diri` Sunan Bonang ingin menyatakan betapa pentingnya manusia memperhatikan potensi kerohaniannya. Adalah yang spiritual yang menentukan yang material, bukan sebaliknya. Tetapi karena pikiran manusia kacau, ia menyangka yang material semata-mata yang menentukan hidupnya. Karena potensi kerohaiannya inilah manusia diangkat menjadi khalifah Tuhan di bumi.

Dalam Suluk Kaderesan, Sunan Bonang menulis:
Jangan meninggikan diri
Berlindunglah kepada-Nya
Ketahuilah tempat sebenarnya jasad ialah roh
Jangan bertanya
Jangan memuja para nabi dan wali-wali
Jangan kau mengaku Tuhan.

Dalam Suluk Ing Aewuh ia menyatakan:
Perkuat dirimu dengan ikhtiar dan amal
Teguhlah dalam sikap tak mementingkan dunia
Namun jangan jadikan pengetahuan rohani sebagai tujuan
Renungi dalam-dalam dirimu agar niatmu terkabul
Kau adalah pancaran kebenaran ilahi
Jalan terbaik ialah tidak mamandang selain Dia.

Tamba Ati
Tamba ati iku lima sak warnane
Maca Qur'an angen-angen sak maknane
Kaping pindo, sholat wengi lakonana
Kaping telu, wong kang soleh kencanana
Kaping papat kudu wetheng ingkang luwe
Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe

Sunan Bonang wafat di Pulau Bawean, pada 1525. Saat akan dimakamkan, ada perebutan antara warga Bawean dan warga Bonang, Tuban. Warga Bawean ingin Sunan Bonang dimakamkan di pulau mereka, karena sang Sunan sempat berdakwah di pulau utara Jawa itu. Tetapi, warga Tuban tidak mau terima. Pada malam setelah kematiannya, sejumlah murid dari Bonang mengendap ke Bawean, ''mencuri'' jenazah sang Sunan.

Esoknya, dilakukanlah pemakaman. Anehnya, jenazah Sunan Bonang tetap ada, baik di Bonang maupun di Bawean! Karena itu, sampai sekarang, makam Sunan Bonang ada di dua tempat. Satu di Pulau Bawean, dan satunya lagi di sebelah barat Masjid Agung Tuban, Desa Kutareja, Tuban. Kini kuburan itu dikitari tembok dengan tiga lapis halaman. Setiap halaman dibatasi tembok berpintu gerbang.

4.Raden Qasim (Sunan Drajat)
Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M
Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun
Jelog –pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan.

Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk.
Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang’.
Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.

Jadi bilamana Sunan Drajat memberi contoh serta menganjurkan kepada rakyat, agar memiliki jiwa sosial serta menganjurkan agar supaya rakyat suka menolong para fakir dan miskin yang sedang mengalami penderitaan dan kesempitan, maka hal itu adalah sesuai dengan tuntunan agama.

5.Jaffar Shadiq (Sunan Kudus)
Sunan Kudus dilahirkan dengan nama Jaffar Shadiq. Dia adalah putra dari pasangan Sunan Ngudung, adalah panglima perang Kesultanan Demak Bintoro, dan Syarifah, adik dari Sunan Bonang. Sunan Kudus diperkirakan wafat pada tahun 1550.
Sunan Kudus pernah menjabat sebagai panglima perang untuk Kesultanan Demak, dan dalam masa pemerintahan Sunan Prawoto, dia menjadi penasihat bagi Arya Penangsang. Selain sebagai panglima perang untuk Kesultanan Demak, Sunan Kudus juga menjabat sebagai hakim pengadilan bagi Kesultanan Demak.

Dalam melakukan dakwah penyebaran Islam di Kudus, Sunan Kudus menggunakan sapi sebagai sarana penarik masyarakat untuk datang untuk mendengarkan dakwahnya. Sunan Kudus juga membangun Menara Kudus yang merupakan gabungan kebudayaan Islam dan Hindu yang juga terdapat Masjid yang disebut Masjid Menara Kudus.

Pada tahun 1530, Sunan Kudus mendirikan sebuah mesjid di desa Kerjasan, Kudus Kulon, yang kini terkenal dengan nama Masjid Agung Kudus dan masih bertahan hingga sekarang. Sekarang Masjid Agung Kudus berada di alun-alun kota Kudus, Jawa Tengah.Peninggalan lain dari Sunan Kudus adalah permintaannya kepada masyarakat untuk tidak memotong hewan kurban sapi dalam perayaan Idul Adha untuk menghormati masyarakat penganut agama Hindu dengan mengganti kurban sapi dengan memotong kurban kerbau, pesan untuk memotong kurban kerbau ini masih banyak ditaati oleh masyarakat Kudus hingga saat ini.

6.Raden Paku/Ainul Yaqin (Sunan Giri)
Kemudian bersama-sama dengan Maulana Makdum Ibrahim, Raden Paku oleh Sunan Ampel di suruh pergi haji ke Tanah Suci, sampai memperdalam ilmunya. Tetapi mereka sebelum sampai di tanah suci singgah terlebihdahulu di Pasai (Aceh), untuk menuntut ilmu kepada para ulama disana.

Adapun yang imaksud ilmu di sini, adalah ilmu ke Tuhanan menurut ajaran tasawuf. Konon kabarnya memang banyak ulama-ulama keturunan India dan Persia yang membuka pengajian di pasai di waktu itu. Bahkan banyak pula ulama-ulama dari Malaka juga kadang-kadang datang bertanya tentang sesuatu masalah ke Pasai. Sesudah kedua tunas muda itu selesai menuntut pelajaran di sana, merekapun kembalilah ke tanah Jawa. Raden Paku berhasil mendapat "Ilmu Laduni", sehingga gurunya di pasai memberinya nama "Ainul Yaqin".

Raden Paku sekembalinya di tanah Jawa mengajarkan agama Islam menurut bakatnya. Raden paku atau Syekh Ainul Yaqin mengadakan tempat berkumpul yang boleh disebut pondok pesantrennya di Giri. dimana murid-muridnya terdiri pada orang-orang kecil (rakyat jelata).

Diantara permainan kanak-kanak hasil ciptaan/gubahannya adalah rupa "jitungan" atau "jelungan". Adapun caranya adalah begini :
Anak-anak banyak, satu diantaranya menjadi "pemburu", lain-lainnya jadi "buruan" mereka ini akan 'selamat' atau 'bebas' dari terkaman 'pemburunya', apabila telah berpegangan pada 'jitungan', yaitu satu pohon, tiang atau tonggak yang telah ditentukan terlebih dahulu.

Permainan dimaksudkan untuk mendidik pengertian tentang keselamatan hidup, yaitu : bahwa apabila sudah berpegangan kepada agama yang berdasarkan ke Tuhanan Yang Maha Esa sajalah, maka manusia (buruan) itu akan selamat dari terkaman iblis (pemburunya). Di samping itu diajarkannya pula nyanyian-nyanyian untuk kanak-kanak yang bersifat paedagogis serta berjiwa agama, Di antaranya adalah berupa 'tembung dolanan bocah' (lagu permainan anak-anak), yang berbunyi sebagai berikut :
"Padang-padang bulan, ayo gage da dolanan, dolanane naning latar, ngalap padang gilar-gilar, nundang bagog hangatikar", yang dalam bahasa indonesianya kira-kira begini :
"Terang-terang bulan, marilah lekas bermain, bermain dihalaman, mengambil manfaat dari terang benderang, mengusir gelap yang lari terbirit-birit".
Adapun maksud dari tembang tersebut di atas itu adalah : Agama Islam (bulan) telah datang memberi penerangan hidup, maka marilah segera orang menuntut penghidupan (dolanan, bermain) di bumi ini (latar, halaman) akan mengambil manfaat ilmu agama Islam (padang, gilar-gilar, terang benderang) itu, agar sesat kebodohan diri (begog, gelap) segera terusir.

Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.
Sesudah beliau wafat, kemudian dimakamkan di atas bukit Giri (Gresik). Setelah Sunan Giri meninggal dunia, berturut-turut digantikan oleh Sunan Delem, Sunan Sedam Margi, Sunan Prapen.

7.Raden Said (Sunan Kalijogo)
Raden.Mas Syahid atau yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Kalijaga., adalah putera dari Ki Tumenggung Wilatika, bupati Tuban, ada pula yang mengatakan, bahwa nama lengkap ayah Sunan Kalijaga adalah Raden Sabur Tumenggung Wilatika, dikatakan dalam riwayat, bahwa dalam perkawinannya dengan Dewi Saroh Binti Maulana Ishak, Sunan Kalijaga juga memperoleh 3 orang putera, masing-masing : .R. Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh dan Dewi Sofiah.

Sunan Kalijaga, namanya hingga kini masih tetap harum serta dikenang oleh seluruh lapisan masyrakat dari yang atas sampai yang bawah. hal ini adalah merupakan suatu bukti, bahwa beliau itu benar-benar manusia besar jiwanya, dan besar pula jasanya. sebagai pujangga, telah banyak mengarang berbagai cerita yang mengandung filsafat serta berjiwa agama, seni lukis yang bernafaskan Islam, seni suara yang berjiwakan tauhid. disamping itu pula beliau berjasa pula bagi perkembangan dari kehidupan wayang kulit yang ada sekarang ini.

Sungguh besar jasa Sunan Kalijaga terhadap kesenian, tidak hanya dalam lapangan seni suara saja, akan tetapi juga meliputi seni drama (wayang kulit) seni gamelan, seni lukis, seni pakaian, seni ukir, seni pahat. dan juga dalam lapangan kesusastraan, banyak corak batik oleh sunan kalijaga (periode demak) diberi motif "burung" di dalam beraneka macam. sebagai gambar ilustrasi, perwujudan burung itu memanglah sangat indahnya, akan tetapi lebih indah lagi dia sebagai riwayat pendidikan dan pengajaran budi pekerti. di dalam bahasa kawi, burung itu disebut "kukila" dan kata bahasa kawi ini jika dalam bahasa arab adalah dari rangkaian kata : "quu" dan "qilla" atau "quuqiila", yang artinya "peliharalah ucapan (mulut)-mu.

Hal mana dimaksudkan bahwa kain pakaian yang bermotif kukila atau burung itu senantiasa memperingatkan atau mendidik dan mengajar kepada kita, agar selalu baik tutur katanya, inilah diantaranya jasa sunan kalijaga dalam hal seni lukis. Dalam hubungan ini dibuatnya model baju kaum pria yang diberinya nama baju "takwo", nama tersebut berasal berasal dari kata bahasa arab "taqwa" yang artinya ta'at serta berbakti kepada Allah SWT.

Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.

Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede - Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak

8.Raden Umar Said (Sunan Muria)
Sunan Muria dilahirkan dengan nama Raden Umar Said atau Raden Said. Menurut beberapa riwayat, dia adalah putra dari Sunan Kalijaga  yang menikah dengan Dewi Soejinah, putri Sunan Ngudung.

Ia putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus
Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam.

Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.

Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.

Nama Sunan Muria sendiri diperkirakan berasal dari nama gunung (Gunung Muria), yang terletak di sebelah utara kota Kudus, Jawa Tengah, tempat dia dimakamkan.

9.Syarif Hidayatullah (Sunan Gunungjati)
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450 M, namun ada juga yang mengatakan bahwa beliau lahir pada sekitar 1448 M. Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari kelompok ulama  besar di Jawa  bernama Walisongo.

Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii).

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah putra Syarif Abdullah putra Nurul Alam putra Syekh Jamaluddin Akbar. Dari pihak ibu, ia masih keturunan keraton Pajajaran melalui Nyai Rara Santang, yaitu anak dari Sri Baduga Maharaja. Sunan Gunung Jati mengembangkan Cirebon sebagai pusat dakwah dan pemerintahannya, yang sesudahnya kemudian menjadi Kesultanan Cirebon. Anaknya yang bernama Maulana Hasanuddin, juga berhasil mengembangkan kekuasaan dan menyebarkan agama Islam di Banten, sehingga kemudian menjadi cikal-bakal berdirinya Kesultanan Banten.

Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.

Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.
Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.


Prosesi Klasik Membuat dan Menulis Rajah

Segala macam tulisan / simbol / Rajah / Asma’ suci yang ditulis untuk dijadikan sebagai azimat (tangkal) pasti ada syaratnya. Artinya tidak sembarangan menulis. Dalam pengetahuan,  para spiritualis dan guru mistik mempunyai cara dan syarat yang berbeza-beza dalam menulis Rajah sebagai azimat. 

Tapi syarat yang penting adalah keyakinan dan kemampuan menjalin energi ghaib. Yang boleh didapat dengan jalan ber-meditasi, tapa, tirakat, puasa atau dengan berbagai lelaku lainnya. Kemudian dilanjutkan dengan Tatacara menulis yang baik sesuai kaidah penulisan Rajah.
Berikut ini saya tunjukkan salah satu teknik cara menulis Rajah yang telah kami praktekan selama ini.

Penulisan Rajah Sebagai Azimat
Bersuci baik badan, pakaian maupun tempat (bersih). Untuk mensucikan badan    dengan cara mandi keramas (jinabat) dengan niat untuk menghilangkan hadast besar dan lakukan wudhu untuk membersihkan hadast kecil.

Selama proses pembuatan azimat tidak diperbolehkan bicara (diam/khusyuk) kecuali ada doa khusus yang harus dibaca.

Nafas harus cepat keluar lewat lubang hidung sebelah kanan atau bisa dengan tahan nafas.

Sebisa mungkin lafal Rajah ditulis secara benar (sesuai aslinya) dan rapi. Bila huruf tersebut berlubang maka harus ditulis berlubang. Mengikuti kaidah penulisan Rajah.

Memakai wewangian. Biasanya memakai zakfaron, misik, air mawar untuk campuran tintanya. Namun ini bukan syarat  mutlak, karena memang ada beberapa jenis Rajah yang mensyaratkan memakainya tapi ada juga jenis rajah yang tidak perlu memakai campuran minyak wangi.

Pena yang digunakan adalah bisa pena biasa (bolpoint), spidol, atau pena yang dibelah ujungnya (seperti gambar dibawah ini). Disesuaikan dengan jenis Rajahnya.

Pemilihan Waktu Tepat Membuat Azimat

Untuk pemilihan waktu pembuatan azimat, tergantung dari jenis azimat yang akan dibuat. Misalnya Jenis azimat keselamatan, pagar ghaib, perlindungan, hari yang baik adalah malam Jumat (Kliwon).
Untuk jenis azimat kerezekian, pelarisan usaha dan sejenisnya, dibuat pada hari Kamis (Legi).

Untuk jenis azimat pengasihan dan kasih sayang, dibuat pada hari Kamis atau Selasa (Kliwon). Dan lain-lain, intinya semua disesuaikan dengan jenis azimatnya.
Dikeranakan harus disesuaikan dengan waktu, maka pembuatan azimat memang tidak bisa dibuat setiap hari. Ini seperti halnya dalam Mantra-Aji Jawa, telah ditentukan harinya untuk memulai ritual/puasanya. Misalnya Ajian Bandung Bondowoso, ritualnya Nglowong yang dimulai hari Sabtu Kliwon. Ajian Kulhu Sungsang, ritual Patigeni dimulai hari Selasa Kliwon dsb. Jika menulis rajah tidak dijadikan sebagai azimat, misalnya hanya untuk terapi penyembuhan (rajah direndam dalam air) maka rajah tersebut boleh ditulis bila saja saat memerlukannya.

Arah Memandang
Bagi saya arah pandangan yang terbaik saat membuat azimat adalah menghadap kiblat. Karena semulia-mulia arah adalah Qiblat. Namun tidak mutlak selalu demikian, disesuaikan dengan jenis rajah dan kondisinya.

Doa yang dipanjatkan
1.    Sebelum melakukan penulisan rajah diawali membaca doa ini 3 x:“Bismillahir rohmanir rohim. Qul uhiya ilay’ya anahustama’a nafarun minal jinni wa bihaqqi Kaf Haa Yaa Aiin Shood wa bihaqqi Haa Miim AiinSiin Qoof”
2.    Kemudian dilanjutkan dengan melakukan meditasi sejenak (menjalin energi ghaib) setelah itu baru dilakukan penulisan rajah.
3.    Rajah yang telah selesai ditulis kemudian dillipat dan dibungkus dengan kain lapis 7, agar tidak mudah rusak dan kotor apabila dibawa-bawa.
Saat akan melipat atau membungkus Rajah bacalah :
·         Surat Al fatihah (1x)
·         Innaa fatahnaa laka fat’ham mubiinaa  (3x)
(Artinya: Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata)
·         Nasrun minallahi wa fat’hun qoribun, wa bas’syiril mu’miniin (3x)
(Artinya: Pertolongan dari Allah dan kemengan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman)
·         Allohuma sholi ala sayidina muhammadin (3x)
(Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmatmu kepada junjungan kami Muhammad)
·         Astagfirullah hal ‘adhim (3x)
(Artinya: Aku memohan ampun kepada Allah Yang Maha Agung)
·         Laa illaaha illaallah (3x)
(Artinya: Tidak ada Tuhan selain Allah)
·         Inna taqorruban ilallohil aliyyil adhim (3x)
(Artinya: Bahwasanya ini merupakan taqorrub kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung)

Demikian Tatacara pembuatan ajimat. Memang dalam pandangan sebagian orang, cara ini terkesan ribet, tidak praktis, harus menunggu hari-hari tertentu. Namun demikianlah tuntunan ilmu yang kami amalkan, jadi ini bukan sekedar teori seperti dibuku-buku mujarobat. Dengan dasar intuisi yang kuat (semacam ilham) dan kewaskitaan (Visi) maka pembuatan ajimat menjadi tidak sulit.

Sebagai gambaran seperti berikut: Saya pribadi membuat ajimat bukan karena kemauan sendiri, tapi karena intuisi (orang biasanya menyebut: ilham) yang dihadirkan dalam diri  ketika terjaga atau mimpi, yang menuntun untuk membuat ajimat dihari sekian, tanggal sekian. Dan beberapa hari kemudian setelah ajimat selesai dibuat, datanglah orang yang membutuhkannya. Saat itulah saya berikan ajimat tersebut. Ini hanya sekedar contoh, tidak selalu melulu seperti itu.

Dengan tuntunan dari ilham dan visi inilah maka tidak ada azimat rajah yang dibuat  dengan sia-sia. Artinya sia-sia: tidak pernah digunakan, hanya mengganggur disimpan dalam lemari dan akhirnya malah dikeramatkan. Ini yang berbahaya (syirik). Jadi membuat azimat/rajah itu hanya ketika diperlukan saja, baik untuk diri pribadi atau orang lain yang membutuhkan disaat yang tepat.

Ketika azimat tidak lagi diperlukan, jangan membuangnya, tapi musnahkanlah dengan cara dibakar sampai jadi abu. Karena bila dibuang ditempat sampah, hal tersebut dianggap merendahkan asma suciNYA. Tidak selayaknya lafal asma suciNYA terbuang ditempat kotor.

Bagi saya, Azimat / rajah hanya sekedar sarana, daya dan kekuatan tetap dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Mulai dari sini kita akan semakin menyadari, bukan hanya sekedar tahu, salah satu keagungan dari asma suciNYA.

Cara Kedua
  • Suci Badan (berwudhu)
  • Jangan Bercakap-cakap saat menulis
  • Menahan Nafas saat menulis rajah, kalau bernafas berhenti tulis rajah, baru lanjutkan
  • Lidah ditekuk ke atas saat menulis
  • Membaca Doa 3 x sebelum menulis, doanya :
“Bismillahir rohmanir rohim.
Qul uhiya ilay’ya anahustama’a nafarun minal jinni wa bihaqqi
Kaf Haa Yaa Aiin Shood wa bihaqqi Haa Miim AiinSiin Qoof”
  • Baru menulis Rajah.

Tempat Menulis Rajah
  • Tempat menulis rajah haruslah di tempat yang sunyi tanpa gangguan manusia dan lain-lain.
  • Harus di lakukan di tempat yang sunyi dan gelap atau bilik khas.
  • Konsentrasi ketika menulis rajah jika ada benda menggangu seperti kereta lalu dan lain-lain jangan di pandang, teruskan menulis rajah.

Pemilihan Waktu Tepat Membuat Azimat

Untuk pemilihan waktu pembuatan azimat, tergantung dari jenis azimat yang akan dibuat. Misalnya Jenis azimat keselamatan, pagar ghaib, perlindungan, hari yang baik adalah malam Jumat (Kliwon).
Untuk jenis azimat kerezekian, pelarisan usaha dan sejenisnya, dibuat pada hari Kamis (Legi).

Untuk jenis azimat pengasihan dan kasih sayang, dibuat pada hari Kamis atau Selasa (Kliwon). Dan lain-lain, intinya semua disesuaikan dengan jenis azimatnya.
Dikeranakan harus disesuaikan dengan waktu, maka pembuatan azimat memang tidak bisa dibuat setiap hari. Ini seperti halnya dalam Mantra-Aji Jawa, telah ditentukan harinya untuk memulai ritual/puasanya. Misalnya Ajian Bandung Bondowoso, ritualnya Nglowong yang dimulai hari Sabtu Kliwon. Ajian Kulhu Sungsang, ritual Patigeni dimulai hari Selasa Kliwon dsb. Jika menulis rajah tidak dijadikan sebagai azimat, misalnya hanya untuk terapi penyembuhan (rajah direndam dalam air) maka rajah tersebut boleh ditulis bila saja saat memerlukannya.

Arah Memandang
Segi pandang yang terbaik saat membuat azimat adalah menghadap kiblat. Karena semulia-mulia arah adalah Qiblat. Namun tidak mutlak selalu demikian, disesuaikan dengan jenis rajah dan kondisinya.

Doa yang dipanjatkan
1.    Sebelum melakukan penulisan rajah diawali membaca doa ini 3 x:“Bismillahir rohmanir rohim. Qul uhiya ilay’ya anahustama’a nafarun minal jinni wa bihaqqi Kaf Haa Yaa Aiin Shood wa bihaqqi Haa Miim AiinSiin Qoof”
2.    Kemudian dilanjutkan dengan melakukan meditasi sejenak (menjalin energi ghaib) setelah itu baru dilakukan penulisan rajah.
3.    Rajah yang telah selesai ditulis kemudian dillipat dan dibungkus dengan kain lapis 7, agar tidak mudah rusak dan kotor apabila dibawa-bawa.
                        Saat akan melipat atau membungkus Rajah bacalah :
·         Surat Al fatihah (1x)
·         Innaa fatahnaa laka fat’ham mubiinaa  (3x)
(Artinya: Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata)
·         Nasrun minallahi wa fat’hun qoribun, wa bas’syiril mu’miniin (3x)
(Artinya: Pertolongan dari Allah dan kemengan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman)
·         Allohuma sholi ala sayidina muhammadin (3x)
(Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmatmu kepada junjungan kami Muhammad)
·         Astagfirullah hal ‘adhim (3x)
(Artinya: Aku memohan ampun kepada Allah Yang Maha Agung)
·         Laa illaaha illaallah (3x)
(Artinya: Tidak ada Tuhan selain Allah)
·         Inna taqorruban ilallohil aliyyil adhim (3x)
(Artinya: Bahwasanya ini merupakan taqorrub kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung)

Demikian Tatacara pembuatan ajimat. Memang dalam pandangan sebagian orang, cara ini terkesan ribet, tidak praktis, harus menunggu hari-hari tertentu. Namun demikianlah tuntunan ilmu yang kami amalkan, jadi ini bukan sekedar teori seperti dibuku-buku mujarobat. Dengan dasar intuisi yang kuat (semacam ilham) dan kewaskitaan (Visi) maka pembuatan ajimat menjadi tidak sulit.

Sebagai gambaran seperti berikut: Saya pribadi membuat ajimat bukan karena kemauan sendiri, tapi karena intuisi (orang biasanya menyebut: ilham) yang dihadirkan dalam diri  ketika terjaga atau mimpi, yang menuntun untuk membuat ajimat dihari sekian, tanggal sekian. Dan beberapa hari kemudian setelah ajimat selesai dibuat, datanglah orang yang membutuhkannya. Saat itulah saya berikan ajimat tersebut. Ini hanya sekedar contoh, tidak selalu melulu seperti itu.

Dengan tuntunan dari ilham dan visi inilah maka tidak ada azimat rajah yang dibuat  dengan sia-sia. Artinya sia-sia: tidak pernah digunakan, hanya mengganggur disimpan dalam lemari dan akhirnya malah dikeramatkan. Ini yang berbahaya (syirik). Jadi membuat azimat/rajah itu hanya ketika diperlukan saja, baik untuk diri pribadi atau orang lain yang membutuhkan disaat yang tepat.

Ketika azimat tidak lagi diperlukan, jangan membuangnya, tapi musnahkanlah dengan cara dibakar sampai jadi abu. Karena bila dibuang ditempat sampah, hal tersebut dianggap merendahkan asma suciNYA. Tidak selayaknya lafal asma suciNYA terbuang ditempat kotor.

Bagi saya, Azimat / rajah hanya sekedar sarana, daya dan kekuatan tetap dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Mulai dari sini kita akan semakin menyadari, bukan hanya sekedar tahu, salah satu keagungan dari asma suciNYA.

Cara Kedua
  • Suci Badan (berwudhu)
  • Jangan Bercakap-cakap saat menulis
  • Menahan Nafas saat menulis rajah, kalau bernafas berhenti tulis rajah, baru lanjutkan
  • Lidah ditekuk ke atas saat menulis
  • Membaca Doa 3 x sebelum menulis, doanya :
“Bismillahir rohmanir rohim.
Qul uhiya ilay’ya anahustama’a nafarun minal jinni wa bihaqqi
Kaf Haa Yaa Aiin Shood wa bihaqqi Haa Miim AiinSiin Qoof”
  • Baru menulis Rajah.

Tempat Menulis Rajah
  • Tempat menulis rajah haruslah di tempat yang sunyi tanpa gangguan manusia dan lain-lain.
  • Harus di lakukan di tempat yang sunyi dan gelap atau bilik khas.
  • Konsentrasi ketika menulis rajah jika ada benda menggangu seperti kereta lalu dan lain-lain jangan di pandang, teruskan menulis rajah.


  


Ilmu Hikmah Warisan Walisongo

Ilmu Hikmah bagi sementara orang terasa agak asing. Namun seperti ilmu-ilmu lain yang tumbuh dan berkembang dari Agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits dengan berbagai paradigma, dogma, doktrin, dan mitosnya seperti ilmu nahwu, sharaf, balaghah, fiqh, ushul fiqh, tasawuf, filsafat, manthiq, ilmu falak, ilmu kimia, ilmu hitung, dan lain-lain.

Ilmu Hikmah kronologinya  dikembangkan oleh para ulama sebagai bidang ilmu tersendiri dengan paradigma, dogma, doktrin, dan mitos yang secara epistemologi berbeda dengan ilmu-ilmu Islam yang lain. 

Dalam sejarah dakwah Islam di Nusantara, Ilmu Hikmah dikembangkan oleh para Wali Songo yang dipelopori Sunan Ampel yang membawa kitab-kitab berisi wejangan ilmu gaib asal Campa yang disebut Tapuk Cakarai yang berisi ilmu wifiq, rajah, azimat, asmaa’,  petungan a-ba-ja-dun-ha-wa-zun, wirid, hizb, doa khusus, tawassul, dan lain-lain.  

Kitab Tapuk Cakarai berisi wejangan ilmu gaib inilah yang belakangan dirangkum oleh para ulama dan ruhaniwan keturunan Wali Songo sebagai pusaka warisan leluhur yang disebut PRIMBON, yang bermakna khazanah kelimpahan pengetahuan.

Sebagai kitab pegangan dalam Ilmu Hikmah, Primbon tentu saja hanya salah satu dari  kitab warisan yang dipusakakan. Sebab setelah Wali Songo, para ulama penerus dakwah Islam menggunakan kitab-kitab pegangan Ilmu Hikmah asal Timur Tengah yang  masyhur seperti Kitab Syamsul Ma’arif, Al-‘Aufaq, Tajul Muluk, Silakhul Mu’min, Al-Mubarak, Mujarabah, Dalail al-Khairat, Mu’asrar, dan lain-lain. 

Selama rentang waktu ratusan tahun, Ilmu Hikmah banyak digunakan oleh masyarakat tradisional sebagai salah satu ikhtiar untuk mengatasi berbagai macam kesulitan dalam kehidupan yang kadang kala tidak bisa dipecahkan oleh kekuatan jasmani dan akal.

Selama rentang waktu era modern berlangsung – yang ditandai menguatnya aliran pemikiran positivisme yang dikembangkan August Comte yang sekuler, rasional, materialis, dan empirisme – Ilmu Hikmah dinilai sebagai ilmu klenik, ilmu perdukunan, sihir, dan ilmu mistis yang sesat dan tidak masuk akal yang harus dijauhi dan dimusnahkan. 

Namun seiring perubahan peta pemikiran dunia  dengan munculnya aliran pemikiran Post-structuralism dan Post-modern yang esensinya melepaskan epistemologi keilmuan dari logosentrisme Barat yang bersifat oposisi biner, maka Ilmu Hikmah tidak bisa lagi dinilai sebagai ilmu klenik bagian dari mitos.

Bertolak dari pemikiran Post-structuralism dan Post-modernism yang hakikatnya tidak berbeda dengan tradisionalisme, warisan para ulama era Wali Songo dan penerusnya yang menjadi bagian integral dari budaya masyarakat muslim Nusantara yang menganut faham Ahlus Sunnah wal-Jama’ah yang menganut empat mazhab (mazhahib al-arba’), kami akan menyuguhkan secara bersambung bagian demi bagian dari ilmu hikmah yang dibutuhkan oleh masyarakat muslim tradisional maupun masyarakat muslim post-modern dalam mengatasi kesulitan hidup dengan ikhtiar melalui ilmu hikmah. 

Berdasar kitab-kitab ilmu hikmah yang sebagian besar peninggalan Sunan Giri dan Sunan Ampel serta Sunan Kalijaga yang disimpan di KPPN (Koleksi Perpustakaan Puspa Negara – yang sebagian dijadikan rujukan utama dalam skripsi dan tesis di FIB Universitas Airlangga), berikut ini akan dipaparkan kaifiat amaliah ilmu hikmah sesuai kebutuhan tertentu masyarakat:

 Doa Istighfar Baba Adam

Yang dimaksud Doa Istighfar Nabi Adam adalah ayat 23 dari Surah Al-A’raf  dalam Al-Qur’an yang dibaca sebanyak-banyaknya dalam hitungan ganjil. Barangsiapa membaca doa istighfar Bapa Adam ini akan diampuni dosa dan kesalahannya serta akan dianugerahi kedudukan yang mulia.

Doa harus dibaca dalam bahasa al-Qur’annya, yaitu:

Bismillahirrohmanirrohiim
Robbana Ya Robbana dholamna anfusanaa wa inlam taghfirlanaa wa tarkhamnaa lanakuunanna minal khoosiriin (Tuhan kami, Ya Tuhan kami, kami telah mendzalimi diri (nafs) kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak  memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”).
Selama mengamalkan doa istighfar Bapa Adam ini tidak diperkenankan berbicara dan me nekuk lutut –kecuali sembahyang — serta tidak boleh berteduh selama tiga hari tiga malam. Boleh makan tetapi tidak boleh bicara.

Doa Agar Derajat dab Cukup Rejeki

Doa ini dibaca untuk memudahkan permohonan kepada Allah agar jauh dari kekurangan sandang dan pangan sampai menjadi kaum gharimiin dan bahkan gembel serta derajatnya diangkat dari kenistaan.Doa yang harus dibaca adalah:

Bismillahir rohmaanir rohiim.Allohumma Yaa Ghoniyyu Yaa Hamiidu Yaa Mubdi’u Yaa Mu’iidzu Yaa Rokhiimu Yaa Waduudu Aghnini bihalalika an Haromika Wa akfinii wa bii Fadlika amman siwaka. Birokhmatika Yaa Arkhamar Rokhimiin.

Doa dibaca setiap usai sembahyang fardlu dan usai sembahyang Jum’at 3 x.
Nama Allah “Al-Ghoniyyu”(Yang Mahakaya) jika banyak disebut berulang-ulang, maka akan membawa pengaruh pada kekayaan jiwa dan materi yang membuat orang berdiri sendiri tidak tergantung pada kekuasaan orang lain. 

Nama Allah “Al-Hamiid” (Yang Maha Terpuji) jika disebut berulang-ulang akan membawa derajat kemuliaan.  Nama Allah “Al-Mubdi”  jika disebut berkali-kali akan membawa pengaruh terbukanya pintu kepandaian pada ilmu hikmah dan memudahkan pemahaman. Nama “Al-Mubdi” lazimnya digunakan sebagai amaliah dzikir oleh para santri yang sedang belajar ilmu balaghoh dan ilmu ma’ani. 

Nama Allah “Al-Mu’idzu” (Yang Maha Memuliakan) jika disebut berulang-ulang akan membawa pengaruh meningkatnya derajat kemuliaan. Nama Allah “Ar-Rokhiim”(Yang Maha Penyayang) jika diucapkan berkali-kali akan membawa pengaruh perbawa welas asih kepada orang di sekitarnya. Dengan mengamalkan doa di atas, maka Allah akan memberikan karunia kemuliaan sesuai Nama-nama Indah-Nya (al-asma’ al-husna).

Doa Pembuka Rejeki (1)
Bismillahir rohmaanir rohiim Allahumma Yaa Ghaniyyu Yaa Hamiidu Yaa Mubdi’u Yaa Mu’iidu Yaa Rohiimu Yaa Waduudu Aghnini Bihaalaalika ‘AnharamikaWakfiinii Bifadhlika  ‘Amman Siwaaka Wa Shallaallahu Alaa Sayyidiina Muhammadin Wa Alihii  Wa Shahbihii Wa Sallama.

Barangsiapa yang membaca doa ini bakdal Shalat Jum’at, maka hutangnya akan cepat terbayarkan oleh Allah dengan cara-Nya yang sering  tidak tersangka-sangka dan ia akan merasa berkecukupan hidupnya.  Sebagian ulama berkata,”Barangsiapa membiasakan membaca doa ini sehabis mengerjakan shalat fardlu, Allah akan menjadikan hidupnya berkecukupan.

Doa Pembuka Rejeki (2)

Bismillahir Rohmaanir Rohiim
Allahumma Yaa Ahadu Yaa Waahidu Yaa Maujudu Yaa Jawwadu Yaa Baasithu Yaa Kariimu Yaa Wahhabu Yaa Dzaththauli Ya Ghaniyyu Yaa Mughnii Yaa Fattaahu  Yaa Razzaqu Yaa ‘Aliimu Yaa Hayyu Yaa Qayyuumu Yaa Rahmaanu Yaa Rohiimu Yaa Badii’as Samaawati Wal Ardh Yaa Dzal Jalaali Wal Ikrammi Yaa Hannaanu Yaa Mannaanu  Infahni Minka Binafhatin Khairin Tughniinii  ‘Ammansiwaaka Intastaftahu  Faqad Jaa’akumulfathu Inna Fatahnaa Laka Fathan Mubiina Nahrun Minallahi Wa Fathun Qariibun Wa Basysyril Mu’miniina Allahumma Yaa Ghaniyyu Yaa Hamiidu Yaa Mubdi’u Yaa Mu’iidu Yaa Rohiimu Yaa Waduudu Yaa Dzal ‘Arsyl Madjiidi Yaa Faa’alu Limaa Yuriidu Aghniinii Bihalaalika ‘Anharamika Wa Aghniini Bifadhlika ‘Amman Siwaaka Wahfaznii Bimaa Hafizhta Bihidz Dzikra Wan Shurniibimaa Nasharta Bihir Rusula Innaka Alaa Kulli Syai’in Qadiirun. Wa Shallaallahu alaa Sayyidinaa Muhammadin Wa Alaa Aalihi Wa Shabihii Wa Sallama ‘Adada Khalqihii Wa Zinata ‘Arsyihi Wa Midada Kalimaatihii Wal Hamdulillahi Robbil ‘Aalamiina.

Barangsiapa yang senan membiasakan diri membaca doa ini setiap bakdal shalat fardhu, terutama dibaca bakdal shalat Jum’at, maka Allah senantiasa akan melindungi dari segala macam perkara yang menakutkan. Allah juga akan menjauhkannya dari keburukan perbuatan orang-orang yang memusuhi. Allah terutama akan membukakan pintu rejeki dan mempermudah kehidupannya.

Doa Berlindung dari Hutang dan Musuh
Bismillahir Rohmaanir Rohiim
Allahumma inni A’udzubika min Ghalabatid Daini Wa Ghalabatil ‘Aduwwi Wa Syamaatatil A’daai.


Barangsiapa membaca doa ini setiap habis shalat fardhu, maka ia akan terhindar dari tekanan hutang-piutang, terhindar dari ancaman musuh dan kesukacitaan musuh.

Doa Agar Bisa Melunasi Hutang

Bismillahir rohmaanir rohiim
Allahumma inni A’uudzubika minal hammi Wal Khazhani Wal ‘Ajzi Wal Kasali Wal Bukhli Wal Jubni Wadh Dhola’id Daini Wa Ghalabatir Rijaali.


Barang siapa yang membiasakan membaca doa ini setiap bakdal shalat fardlu, Allah akan melindunginya dari kesusahan dan kesedihan, menjauhkan dari kelemahan, kemalasan, sifat kikir dan pengecut, serta membebaskannya dari lilitan hutang dan membebaskannya dari keadaan dikuasai orang lain.


Gong Renteng, Warisan Kanjeng Walisongo

Jika Sunan Kalijaga menggunakan seni wayang sebagai salah satu alat dakwah maka Sunan Gunung Djati memanfaatkan kesenian Goong Renteng yang diciptakan oleh sahabatnya, yaitu Sunan Bonang pada sekitar tahun 1600 M. Hingga kini Goong Renteng masih dapat dinikmati pada acara sakral, misalnya pada acara memperingati hari besar agama Islam. Salah satu seni tradisional peninggalan seni budaya Islam ini sudah sangat langka.
Gong Renteng merupakan salah satu jenis gamelan khas masyarakat Sunda yang sudah cukup tua. Paling tidak, Goong Renteng sudah dikenal sejak abad ke-16, dan tersebar di berbagai wilayah Jawa Barat. Goong renteng dapat ditemukan di Cileunyi dan Cikebo Sumedang, Lebakwang Bandung, dan Keraton Kanoman Cirebon.

Sesuai tradisi Gong Renteng biasanya ditabuh setelah perangkat gamelan itu dibersihkan, misalnya ketika digunakan untuk memeriahkan acara Muludan (peringatan hari lahirnyaKanjeng Nabi Muhammad s,a,w   ) dan acara ngebakan (memandikan; membersihkan) pusaka-pusaka pada setiap tanggal 12 Mulud. Gong Renteng, sayang sekali tidak banyak yang mengenal saalh satu seni budaya Islam ini.


Bubur Suruh Tradisi Masak Berbarengan Warisan Sunan Bonang

Bubur Suruh Warisan Sunan Bonang
Tradisi unik tahunan setiap bulan Ramadan di makam Sunan Bonang, Tuban, Jawa Timur. Tradisi tersebut adalah memasak bubur suruh dalam porsi yang besar. 
"Bubur suruh kalau Ramadan untuk takjil berbuka puasa," kata Juru Kunci Makam Sunan Bonang, Abdul Muchith ketika di temui di kompleks makam Sunan Bonang, Tuban, Jawa Timur.

Setiap pengunjung makam akan ditawari bubur suruh tersebut. Untuk memasaknya diperlukan waktu dan tenaga yang tak sedikit. Masakan khas ini biasa dibuat dalam wajan berukuran besar.

Maka dari itu, saat memasak perlu bantuan dari banyak orang untuk bergantian mengaduk. Selain itu, butuh waktu lama untuk menunggu sampai air mengering. "Biasanya pakai wajan besar dua. Jam lima sore sudah matang, tuturnya.

Bubur tersebut bertekstur lembut, warnanya kuning kecokelatan. Rasanya cukup gurih dan beragam. Bubur suruh terbuat dari tepung beras, santan kelapa, bumbu gurih, kayu manis, balungan (tulang sapi dengan sedikit daging) dan lemak.

"Itu satu makanan tapi mencakup semuanya, memenuhi persyaratan gizi dan rasa. Dari beras, dikasih bumbu, daging-daging kemudian diaduk mulai Dzuhur sampai menjelang waktu berbuka puasa," ucapnya.

Biasanya tradisi ini berlangsung selama bulan Ramadan. Di mulai dari hari kedua Ramadhan dan diakhiri dua hari menjelang lebaran. Masyarakat akan datang ke samping kompleks makam beramai-ramai.
Mereka akan bahu-membahu bekerjasama untuk memasak bubur tersebut. Biasanya juga menjelang waktu berbuka puasa, beberapa orang membawa berbagai kuah. Biasanya kuah tersebut akan dibagi-bagi untuk dicampur di makanan untuk berbuka puasa tersebut.

"Biasanya orang-orang datang membawa banyak macam kuah. Dicampur kuah apapun itu enak. Dicampur rawon, kuah pecel, sayur asem, apa aja enak," ujarnya.

Tak bisa diketahui bermula sejak kapan tradisi memasak berbarengan bubur suruh ini mulai ada. Namun yang jelas, tradisi ini diduga masyarakat merupakan warisan dari era Sunan Bonang. Sebab dari cita rasanya, ada cara pengolahan khas Timur Tengah.


Mengunjungi Makam Wali Allah, Sultan Suriansyah

Makam Sultan Suriansyah   S ultan Suriansyah, berasal dari keturunan raja-raja Kerajaan Negara Daha. Ia merupakan Raja Banjar pertama yan...