Sabtu, 19 Agustus 2017

Islamisasi Kapitayan dan Hindu-Budha

Demak adalah kerajaan Islam pertama di Jawa pasca-runtuhnya Majapahit yang dianggap menjdi salah satu sentra terpenting penyebaran nilai-nilai hasil asimilasi sosio-kultur salah satu masyarakat muslim. Menurut historiografi Jawa. Kerajaan Demak ditegakkan oleh Raden Patah dengan gelar Senopati Jimbun Panemnahan Palembang Sayidin Panatagama yang merupakan murid Sunan Ampel. Sekalipun Demak dianggap Kerajaan Islam, namun tata pemerintahan dan produk hukum yang dijadikan acuan penegakan negara menunjuk pada pola hukum Majapahit. Angger Surya Ngalam, kitab hukum era Demak, secara substansial dapat dinilai lebih dekat kepada hukum yang termaktub di dalam kitab Salokantara dan Kutaramanawa Dharmasashtra yang digunakan di Majapahit. Hal itu menunjuk bahwa proses asimilasi sosio-kultur-religius dilakukan juga pada usaha bina negara oleh Raden Patah, santri alumni Dukuh Ampeldenta tersebut. Bahkan belakangan  putra Raden Patah yang bernama Trenggana, menyempurnakan syarat-syarat berdirinya sebuah kekuasaan tradisional dengan memboyong pusaka-pusaka Majapahit ke Demak, sehingga Demak dianggap sebagai kelanjutan Majapahit.

Secara tradisional, keberadaan sebuah negara di Nusantara agar mendapat legitimasi dari seluruh elemen masyarakat diwajibkan untuk memenuhi berbagai macam persyaratan-persyaratan tertentu. Pertama: Negara harus memiliki Raja atau Ratu, yakni manusia kuat yang diliputi kekuatan-kekuatan supranatural sekaligus memiliki kemampuan untuk memimpin negara. Kedua:  Kewibawaan  negara hanya mungkin terjadi jika negara ditunjang oleh kekuatan supranatural  yang berupa pusaka-pusaka yang memiliki “daya sakti” sehingga negara yang tidak memiliki pusaka kurang mendapatkan legitimasi di mata rakyat. Ketiga: Sejak era Kalingga pada abad 7 M, sebuah penegakan hukum yang keras menjadi prasyarat bagi otoritas negara dalam mengatur tatanan warga negara. Keempat:  Kekeuasaan seorang pemimpin negara  akan legitimated di mata rakyat jika didukung oleh kalangan elit spitual. Kasus runtuhnya kekuasaan Kertadjaya, penguasa Kediri, jelas bermula dari penolakan para pendeta Syiwa untuk mendukung kebijakan raja yang ingin dirinya disembah sebagai penjelmaan dewa.

Sampai zaman penegakan kekuasaan Demak Bintara, kedudukan Wali Songo sebagai lembaga keramat tempat elite spritual keagamaan berkumpul, berupakan penopang utama kerajaan Islam pertama di jawa tersebut. Kekuasaan Demak Bintara semakin kukuh setelah Sultan Trenggana memboyong pusaka-pusaka Majapahit ke keratonnya. Ketika Sultan Adiiwijaya menjadi penguasa di Pajang dan memindahkan pusaka-pusaka Demak ke Pajang, keabsahan kuasanya sudah diakui, tetapi menjadi semakin kuat mendapat legitimasi dari rakyat setelah Sultan Adiwijaya dilantik oleh Sunan Prapen dari Giri. Demikian pun raja-raja Mataram, legitimasi spritualnya selain diperoleh dari pusaka-pusaka yang diboyong dari keraton Pajang juga diperoleh terutama dari legitimasi Sunan Kalijaga dan keturunannya. Dari fenomena tersebut diatas, tidak bisa dimaknai lain  kecuali sebagai suatu proses asimilasi dari sistem kekuasaan tradisional yang terpengaruh Kapitayan dan Hindu-Budha dengan Islam, yang bisa dikatakan sebagai bagian islamisasi atas ajaran Kapitayan dan Hindu-Budha.

Usaha dakwah Islam melalui proses islamisasi ajaran Kapitayan dan Hindu-Budha, tampaknya yang paling cepat dan masif adalah melalui pengembangan dukuh-dukuh yang semula merupakan lembaga pendidikan Hindu-Budha tempat bermukimnya para siswa dan wiku serta melalui padepokan-padepokan yang merupakan lembaga pendidikan Kapitayan tempat bermukimnya para cantrik. Melalui lembaga-lembaga pendidikan lokal itulah ajaran Islam yang disesuaikan dengan Kapitayan dan Hindu-Budha dapat berkembang dengan cepat di  tengah masyarakat. Sebab, semakin banyak dukuh dan padepokan baru tumbuh di tengah masyarakat, semakin banyak pula orang yang menjalani kehidupan sebagai seorang wiku atau cantrik, di mana ajaran Islam yang mirip dengan tatanan Syiwa-Budha bagi wiku dan tatanan Kapitayan bagi cantrik itu semakin berkembang luas di tengah masyarakat. Itu sebabnya, kelahiran Islam tradisional yang khas  dari lembaga pendidikan tradisional yang kemudian dikenal dengan nama “pesantren” yang merupakan perkembangan dari dukuh dan padepokan, sangat akrab dengan istilah-istilah lokal keagamaan Syiwa-Budha dan Kapitayan yang “membumikan” istilah-istilah Islam yang berasal dari bahasa Arab.

Proses islamisasi Kapitayan dan Hindu-Budha sebagaimana dikemukakan diatas, jejak-jejak dakwahnya masih dapat kita lacak melalui pengkajian ulang praktek-praktek keragaman umat Islam di Indonesia, baik melalui pengkajian nilai-nilai sosio-kultur-religius, adat kebiasaan masyarakat, warisan seni dan budaya, falsafah hidup, tradisi keagamaan, aliran-aliran tarekat, bahkan dari aspek penyerapan bahasa asing maupun penyesuaian bahasa asing ke dalam bahasa setempat. Dalam praktek-praktek keagamaan yang dijalankan oleh masyarakat muslim di Nusantara yang berhubungan dengan gerakan dakwah Islam yang dilakukan oleh Wali Songo, tampak sekali jejak-jejak usaha “membumikan” ajaran Islam melalui usaha dakwah yang disebut KH. Abdurrahman Wahid (1981) sebagai “pribumisasi Islam”.


Fakta tentang “pribumisasi Islam” yang dilakukan oleh Wali Songo dalam dakwah sebagaimana ditengarai KH. Abdurrahman Wahid, jejaknya masih terlihat sampai saat ini dalam bentuk penyesuaian ajaran Islam yang menggunakan bahasa Arab menjadi bahasa setempat, tempat Wali Songo berdakwah. Sejumlah istilah lokal yang digunakan untuk menggantikan istilah-istilah berbahasa Arab, misalnya,  dapat dilihat dari penggunaan sebutan Gusti Kang Murbeng Dumadi untuk menggantikan sebutan Allahu Rabbul AlamimKanjeng Nabi untuk menyebut Nabi Muhammad Saw, susuhunan untuk mengganti sebutan hadratus syaikh, kyai untuk menyebut al  alim, guru, guru untuk menyebut al-ustadz, santri untuk menyebut murid atau salik, pesantren untuk menyebut ma’had atau halaqah, sembayang untuk menggantikan istilah shalat, upawasa atau puasa untuk menggantikan istilah shaum, selam atau sunat untuk menggantikan khitan, tajug atau langgar untuk menggantikan istilah musholla, swarga untuk menggantikan istilah jannah, neraka untuk menggantikan Naral-jananam, bidadari menggantikan istilah hur, termasuk proes penyerapan kosa kata dari bahasa Arab ke bahasa setempat seperti kata sabar (shabar), adil (adil), lila (ridho), andap asor (tawadhu), ngalah (tawakkal), juga mengambil alihan anasir-anasir tradisi keagamaan Syiwa-Budha dan Kapitayan yang dipungut secara utuh ke adalam adat kebiasaan masyarakat Islam seperti bedhug (tambur tengara waktu sembahyang di sanggar Kapitayan atau vihara Budha), tumpeng, tumbal, nyadran (sisa-sisa dari upacara sraddha, yaitu berkirim doa kepada arwah leluhur), keyakinan terhadap keberadaan Naga Sesha dalam sistem hitungan kalender, pawukon yang berkaitan dengan hari baik dan hari tidak baik, menyakini “Tu-ah” dan “Tu-lah” pada manusia suci dan benda-benda bertuah, meyakini  bahwa di sekitar dunia manusia tinggal makhluk-makhluk halus, yang semua itu menunjukkan telah terjadinya proses asimilasi dan sinkretisasi dakwah Islam di Nusantara yang diketahui jejaknya berasal dari zaman Wali Songo. Sumber: Atlas Wali Songo

Petilasan Gembul, Konon Tempat Berkumpulnya Wali Songo

 Petilasan yang menempel di dinding gunung kapur bertutupkan kain putih itu terdiri dari dua pintu, ada gambar sketsa Walisongo sebagaimana gambar-gambar yang dijual di pasar-pasar dengan bahu harum semerbak bunga kencana dan bunga bureh. Untuk menuju lokasi itu, terlebih dahulu harus melewati tikungan, tanjakan gunung-gunung kapur. Setelah itu, harus naik tangga setinggi 2.5 meter. Di sanalah tempat petilsan Walisongo yang dikenal dengan sebutan “Petilsan Gembul”. Letaknya ada di Desa Jadi, Semanding Tuban.

Bagi masyarakat Tuban, petilasan gembul memang tidak begitu banyak yang mengetahui. Yang datang ke sana juga tidak banyak. Justru yang banyak datang ke sana adalah masyarakat Lamongan, Semarang, Bojonegoro, Kalimantan, Sumatera, dan Malaysia.

“Dinamakan Gembul karena tempat itu merupakan tempat berkumpulnya Walisongo. Gembul berasal dari kata gembu yang artinya tempat berkumpul” kata Samidin, juru kunci patilasan Gembul. Dia menjadi juru kunci Gembul sudah 20 tahun setelah menggantikan bapaknya.

“Kalau pembukuan tentang asal mula Gembul itu memang tidak ada. Saya pernah ingat Mbah Syifa’ pernah mengatakan kalau Walisongo memang pernah berkumpul di sini. Sebelumnya sudah ada Syekh Muhyidin sedang Riyadhoh di sana. Baru  kemudian Walisongo berkumpul di situ,’’tutur Mashadi.

Mashadi menambahkan, berkumpulnya Walisongo di kawasan itu adalah guna membahas rencana pembangunan masjid Demak. Dari pertemuan itu disepakati kalau masjid Demak harus menjadikan. ‘’Karena itu, desa ini namanya Desa Jadi karena keputusan pokoknya masjid Demak harus jadi.”

Bangunan petilasan Gembul, memang sejak dulu hingga sekarang masih seperti itu. Tidak ada yang merubahnya atau merenovasi. Hanya ada penambahan sedikit seperti keramik, sedang kain putih yang sudah lusuh dan sobek hanya ditambahi di atasnya dengan kain putih yang baru. Kain putih yang lama tetap dipasang.

“Dulu Bupati Hindarto punya rencana akan membangun untuk dijadikan obyek wisata. Beliau sudah datang bersama rombongan. Mereka bawa foto, ada yang bawa shooting, sudah ada gambar calon bangunannya. Namun ketika difoto dan disyuting, tidak tampak. Disyuting juga tidak muncul. Sehingga niatan itu tidak dilaksanakan,” ungkap Samidin, warga Rengel yang sedang berkunjung ke Gembul.

Sejauh ini memang belum ada keinginan untuk dijadikan sebagai tempat obyek wisata atau wisata religi. Selain karena akses menuju ke sana yang sulit, kebersihan juga belum terjaga. Di sekitar petilasan Gembul masih banyak kera yang berkeliaran.

“Kalau dijadikan obyek wisata, sebelum ada petunjuk, tidak akan dilaksanakan Mas,” kata Samidin.

“Anggota DPRD Tuban pernah ke Gembul sana Pak Warsito dan Pak Kasmani. Meski mereka datangnya tidak bersamaan tapi keduanya punya maksud yang sama yaitu mengusulkan ke bupati agar petilasan gembul dijadikan sebagai obyek wisata. Dan menurut saya juga bagus, saya sangat setuju karena tempatnya strategis tapi harus dijaga kebersihannya dulu,” kata Mashadi.

Selain di atas ada petilasan, di bagian bawah juga ada satu batu yang berbentuk lonjong berdiri. Ada yang mengatakan bahwa dulu itu pada saat Walisongo berkumpul di sana digunakan sebagai tempat ikatan gajahnya walisongo. Memang sepintas batu itu kecil dan bisa dipeluk, akan tetapi tidak semua orang yang mampu memeluk batu itu. Sebagian pengunjung meyakini jika memeluk batu itu dan bermunajat kepada Allah segala yang menjadi keinginannya akan tercapai asal pelukannya bisa menjangkau tangan satunya.

Meski di petilasan gembul ini tidak ada makam, namun setiap pengunjung harus tetap selalu menjaga hatinya dari segala niat yang buruk dan selalu menjaga kesucian.

“Dulu pernah ada anak-anak SMA dari Pondok Lamongan. Mendadak ada 10 santri yang tiba-tiba kesurupan dan baru sembuh setelah minum air di situ. Setelah ditelusuri ternyata 10 santri tadi sedang bulanan atau menstruasi tetapi tetap naik dan tidak mengaku. Padahaal sebelumnya sudah diingatkan,” ungkap Samidin. 


Jejak Petilasan Wali Songo di Tuban

Tempat Para Duduk Bersila sambil Istirahat
Wilayah Tambakboyo merupakan salah satu kecamatan yang wilayah geografisnya berada di garis pantai, atau tepat berada di Jalur Pantura Kabupaten Tuban, siapa sangka di Kecamatan ini terdapat salah satu bangunan bersejarah syiar Wali songo. Bangunan tersebut diberi nama "Petilasan Wali Songo" tepatnya di Desa Gadon. Mungkin selama ini benar jika Kabupaten Tuban merupakan tempatnya para wali, dengan dibuktikan bangunan-bangunan bersejarah yang ada.

Seorang juru kunci, Mbah Marzuki mengatakan, bahwa bangunan petilasan wali songo ini sudah lama ada, mungkin sejak zaman pera wali dulu. Namun ditemukannya kira-kira pada saat zaman penjajahan belanda di Indonesia, sebab pada saat itu sudah ada yang menjaga petilasan ini yaitu Mbah Kamtari Sarbani.

"Juru kunci petilasan ini tak lain adalah masih ada garis darah, sebab Juru kunci pertama Mbah Kamtari Sarbani ini masih moyang saya, setelah Mbah Kamtari Sarbani meninggal digantikan oleh Mbah Syuhadak, setelah itu dilajutkan oleh Mbah Mahbub pada saat itu sebagai Moden Gadon, setelah Mbah Mahbub meninggal selanjutnya digantikan Mbah Sutarji, dan selesai Mbah Sutarji meninggal baru saya yang menggantikan sampai sekarang," terangnya.

 Marzuki menambahkan, bahwa tempat ini merupakan tempat keramat, karena dulu ada beberapa orang yang mencoba menguji benda-benda di tempat ini, dengan mengambil sehelai kain dan dibuat jahitan untuk pakaiannya, namun apa yang dilakukannya menjadikan musibah, orang tersebut sakit dan akhirnya mengakui kekeramatannya tempat petilasan ini.

Tak hanya itu, masih kata Marzuki, bahkan pernah ada proyek dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) yang akan melakukan pelebaran jembatan, dengan menggusur tempat ini dan memindahkan petilasan atau tapak yang ada dalam bangunan ini, namun tidak bisa dilakukannya.

"Saya juga dengan saudara saya pernah sowan ke Mbah Maimun Zubair Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang untuk berkonsultasi tentang petilasan ini, beliau menyarankan agar saya merawat dan menjaga petilasan. Sebab tempat tersebut dianggapnya keramat dan merupakan tempat bersejarah," pungkasnya.

Berdasarkan keterangan masyarakat banyak, di tempat petilasan  tersebut terdapat sebuah bekas orang duduk dan dua buah tapak kaki yang berada di dalam ruangan.  


Islamisasi Dalam Nilai-Nilai Seni Budaya Nusantara

Dr. Th.G.Th. Pigeaud dalam Javaansche Volksvertoningen (1938) mengemukakan  bahwa wayang kulit
purwa yang dikenal sebagaimana sekarang ini adalah produk yang dihasilkan oleh wali-wali penyebar Islam. Menurut Soekmono (1959) yang menjadi dasar dan pokok kebudayaan Indonesia zaman madya adalah kebudayaan purba (Indonesia asli), tetapi telah diislamkan. Yang dimaksud kebudayaan purba dalam konteks itu adalah kebudayaan Malaio-Polinesia Pra Hindu yang dimaksud oleh Prof. Dr.CC.Berg (1938) dan Prof.Dr.Gj. Held (1950) disebut animisme dan dinamisme, yakni kebudayaan yang lahir dari kepercayaan terhadap benda-benda yang dianggap memiliki “daya sakti” dalam kepercayaan terhadap arwah, sejatinya, yang dimaksud animisme-dinamisme itu adalah ajaran Kapitayan. Proses Islamisasi kebudayaan purba sebagaimana ditengarai Soekmono adalah bukti  asimilasi yang dilakukan para penyebar Islam generasi Wali Songo.


Bukti asimilasi lain dalam usaha mengislamkan anasir Hindu, adalah mengubah dan sekaligus menyesuaikan epos Ramayana dan Mahabaratha yang sangat digemari oleh masyarakat dewasa itu dengan ajaran Islam. Anasir Hindu yang dianggap penting untuk diislamkan adalah pakem crita wayang yang didasarkan pada cerita Ramayana dan Mahabaratha. Dalam proses tersebut terjadi “de-dewanisasi” menuju “humanisasi” demi tumbuhnya tauhid. Dalam usaha mengislamkan pakem cerita Ramayana dan Mahabaratha itu dibuat “cerita” yang disesuaikan dengan nilai-nilai yang islami. Usaha “de-dewanisasi” yang dilakukan dalam mengislamkan epos Ramayana dan Mahabaratha, tercermin pada munculnya cerita-cerita yang berkait dengan kelemahan dan kekurangan dewa-dewa sebagai sesembahan manusia. Salah satu contoh dari kasus ini adalah timbulnya cerita Hyang Manikmaya (Batara Guru) dan Hyang Ismaya (Semar). Kisah Manikmaya dan Ismaya itu secara singkat adalah sbb:

Dikisahkan bahwa sewaktu bumi masih awang-awung, yang  ada hanyalah Hyang Tunggal yang abstrak dan tak bisa digambarkan wujudnya. Hyang Tunggal kemudian menciptakan cahaya. Cahaya tersebut ada yang berkilau-kilau ada pulau yang kehitaman. Yang berkilau disebut Manikmaya dan yang kehitaman disebut Ismaya. Kedua cahaya itu berebut status tentang siapa diantara mereka yang paling tua. Hyang Tunggal memutuskan bahwa Ismaya yang kehitaman itulah yang paling tua. Tetapi Ismaya digambarkan tidak dapat menjadi dewa dan dititahkan untuk turun ke dunia sebagai manusia untuk mengasuh keturunan dewa yang berdarah pandawa. Sehingga turunlah Ismaya kedunia dengan wujud jelek dengan nama Semar. Manikmaya congkak dan menganggap dirinya sebagai dewa yang berkuasa dan tak bercacat. Oleh sebab itu, Manikmaya diberi cacat dan kesaktiannya dapat diatasi oleh kebijaksanaan Semar (Harjawirogo, 1952). Dengan kisah Hyang Manikmaya ini jelaslah bahwa akidah Islam mulai terlihat dengan munculnya Hyang Tunggal Yang Maha Esa dan tak bisa digambarkan wujudnya, yakni Hyang Tunggal yang menciptakan dewa-dewa manusia.

Tidak cukup menggambarkan kelemahan dewa-dewa, para penyebar Islam menyusun daftar silsilah dewa-dewa yang berasal dari galur keturunan Nabi Adam dan Ibu Hawa. Kisah-kisah abad 16 yang dicatat dalam kitab Paramayoga dan Pustakaraja Purwa tentang silsilah dewa-dewa adalah Sbb:
1 .Nabi Adam, 2. Nabi Syis, 3.Anwas dan Anwar,  4. Hyang Nur Rasa, 5.Hyang Wenang, 6. Hyang Tunggal, 7. Batara Sambu. 8. Manikmaya (Idajil atau iblis)
Sementara itu, menurut Serat Kandaning Ringgit Purwa, silsilah dewa-dewa adalah sbb:
1.       Nabi Adam, 2. Nabi Syis, 3. Anwas dan Anwar, 4. Hyang Rasa, 5. Hyang Wenang, 6. Hyang Tunggal, 7. Batara Sambu, 8. Manikmaya (Idajil atau Iblis).

Di dalam babad Mataram yang masih ditulis dalam huruf Arab Pegon berbahasa Jawa milik dr. Sleh al Djufri, silsilah dewa-dewa dikisahkan sbb:

Suatu ketika, Nabi Adam dan istrinya terlibat dalam persoalan anak yang belum mereka miliki. Karena itulah atas daya Nabi Adam terbentuk seberkas cahaya yang akhirnya menjadi bayi laki-laki yang tampan. Kemudian Idajil (iblis) menghasut bayi tersebut agar meminta nama kepada Nabi Adam dan Ibu Hawa. Maka Nabi Adam yang waskita segera tahu atas ulah Idajil, sehingga bayi tersebut diberi nama oleh Nabi Adam, Sang Hyang Syies. Sementara itu Ibu Hawa memberi nama Jaya Kusuma. Sang Hyang Syies atau Jaya Kusuma itu kemudian mempunyai anak, yaitu Sang Hyang Nur Rasa.Sang Nur Rasa punya anak Sang Hyang Nur Cahya, di mana Sanghyang Nur Rasa punya anak Sang Hyang Wening, Sanghyang Tunggal, Sanghyang Ening, Sanghyang Wenang dan seterusnya sampai ke silsilah Parikesit dalam dunia pewayangan.

Dengan munculnya kisah-kisah tentang dewa yang asal-usulnya dari keturunan Nabi Adam, adalah bukti bahwa akidah Islam mulai tertanam di kalangan masyarakat lewat pakem pewayangan versi Wali Songo dan penerusnya yang lmbat laun kebenarannya diyakini oleh banyak orang. Pada gilirannya, kisah-kisah mitologi Hindu yang sudah mengalami interpolasi itu diyakini kebenarannya oleh masyarakat dan dijadikan pakem pewayangan. Bahkan, berdasar pakem pewayangan itu, bermunculan kisah-kisah pewayangan yang mengandung akidah Islam, yang akhirnya diikuti pula oleh masuknya nilai-nilai Islam dalam pakem pewayangan. Sebagian kisah pewayangan yang sudah diislamkan dalam pakem baru itu adalah sbb:

Pertama-tama, pakem yang menempatkan tokoh Drupadi sebagai perempuan utama yang menjadi permaisuri Yudhistira, saudara tertua pandawa, Raja Amarta. Drupadi dan Yudhistira dikisahkan memiliki putra bernama Pancawala. Penggambaran tokoh Drupadi itu adalah sebuah proses islamisasi terhadap kisah Mahabaratha yang asli. Dikatakan proses islamisasi, karena dalam kisah Mahabaratha hyang asli Drupadi bukan hanya istri Yudhistira melainkan pula istri lima orang pandawa, di mana Drupadi mempraktikkan poliandri. Dalam Mahabaratha asli, Dikisahkan memiliki lima orang anak dari lima orang suaminya, yakni, a. Partivinda dari suami Yudhistira, b, Srutasoma dari siami Bima. C, Srutakarma  dari suami Arjuna, d. Satanika dari suami Nakula. e. Srutasena dari suami Sahadewa. Demikianlah, lima orang putra Drupadi itu dalam pakem pewayangan Jawa hasil kreasi Wali Songo dan penerusnya disatukan dalam satu pribadi tokoh bernama Pancawala.

Tokoh Shikkandin, seorang waria yang mengalami pergantian kelamin dengan seorang raksasa bernama Sthuna, digambarkan dalam pakem pewayangan sebagai seorang perempuan sempurna dengan nama Srikandi. Tokoh Srikandi ini, dikisahkan sebagai istri Arjuna. Tokoh Bhima yang kejam dan haus darah yang dikenal dengan nama Wrekudoro (Sansekerta, Srigala), digambarkan sebagai tokoh yang jujur dan memperoleh pencerahan ruhani setelah bertemu Dewa Ruci. Padahal dalam Mahabaratha asli, pada bagian Swargarahanikaparwa, tokoh Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa dan Drupadi digambarkan setelah meninggal di Gunung Mahameru arwahnya sempat mampir ke neraka.

Kisah Bhagawan Drona, pertapa sakti yang mengabdi kepada Raja Hastina, dalam pewayangan digambarkan sebagai sosok yang jahat, licik dan curang. Padahal, dalam kisah Mahabaratha yang asli, tokoh Drona sangat dihormati dan digambarkan sebagai seorang pendeta sakti yang berjiwa perwira. Penggambaran Drona secara negtif tersebut, tidak bisa ditafsirkan lain kecuali sebagai pandangan yang berasal dari doktrin sufisme yang memandang hina seorang ruhaniawan yang mengabdi kepada raja.

Tak berbeda dengan pakem pewayangan kisah Mahabaratha, pakem pewayangan  kisah Ramayana pun merupakan hasil usaha dari penyesuaian nilai-nilai Hinduistik dengan nilai-nilai Islam. Kebiasaan poliandri yang lazim terjadi pada tokoh-tokoh dalam kisah Ramayana, diubah sedemikian rupa seolah-olah hanya bersifat simbolik dan bahkan dikaitkan dengan interpolasi cerita baru. Tokoh Hanuman, misalnya digambarkan dalam pakem pewayangan sebagai putra pertapa perempuan bernama Anjani dengan Bharatta Bayu. Padahal dalam kisah Ramayana asli, Anjani adalah istri Raja Kesari yang mandul. Anjani kemudian bergaul dengan pengelana yang dikenal  bernama Bayu, Dewa angin, sehingga lahir Hanuman  yang kelak disebut dengan nama Bayuputra. Kelahiran Bathara Guru (Agastya) dari tempayan yang diisi ‘air seni’ Bhatara Baruna dan ‘air seni’ bidadari Urwashi, istri Bhatara Mitra, tidak disinggung-singgung dalam pakem pewayangan Jawa. Bahkan, nama pertapa masyur Bharadwaja (Sansekerta: anak dari dua ayah), tidak pernah dibahas khusus dalam pakem pewayangan yang sudah terpengaruh nilai-nilai Islam.

Dengan kenyataan historis tentang keberadaan pakem pewayangan yang menyimpang dari naskah yang asli, semakin jelas bahwa usaha-usaha para penyebar Islam yang dikenal dengan sebutan Wali Songo itu telah melakukan perombakan setting budaya dan tradisi keagamaan yang ada di tengah masyarakat. Malahan, tidak sekedar melalui penyesuaian pakem pewayangan, legenda-legenda yang diangkat pun disesuaikan dengan akidah dan nilai-nilai keislaman. Pakem Ramayana dan Mahabaratha yang sudah diislamkan itu, divisualkan dalam bentuk petunjukkan wayang purwa, yang dengan cepat dapat menarik perhatian masyarakat luas. Dan, masyarakat yang terpesona dengan keindahan permainan wayang yang menggunakan pakem cerita yang sudah diislamkan, dengan cepat menganggap bahwa cerita Ramayana dam Mahabaratha versi Wali Songo itulah yang benar. Sumber: Atlas Wali Songo



Kamis, 17 Agustus 2017

Mengintip Telaga Pegat, Peninggalan Kanjeng Sunan Giri

Telaga Pegat, Gresik
 Letaknya 300 M sebelah tenggara makam Sunan Giri, dinamakan Telaga Pegat karena memisahkan (Jawa : pegat ) dua gunung yaitu Gunung Bagong dan Gunung Patireman. Pada musim kemarau telaga ini kering sedang pada musim hujan airnya kadang-kadang meluap keluar dari telaga. Untuk menyalurkan luapan itu, maka dibuatlah pintu air. 

Pada waktu membuat telaga inilah Sunan Giri memimpin ribuan orang untuk mengerjakan telaga tersebut. Seperti halnya di Telaga Kembar, Telaga Pegat atau ditempat lainya maka salah satu ajaran yang disematkan adalah dilarang mengeluarkan celaan dalam bentuk apapun. 


Yang menarik di dalam telaga ini banyak dihuni oleh ikan. Setiap kali orang yang meluangkan waktu ber-rekreasi menyempatkan untuk mengail ikan tersebut. Walaupun demikian, sebagian orang mempercayai bahwa ikan hasil tangkapan tersebut tidak untuk dijual belikan, namun untuk makanan sehari hari



Selain dari pada itu bagi mereka yang percaya bahwa air telaga pegat bisa menyembuhkan bermacam-macam menyakit seperti reumatik, sakit kudis, angin merah (mati setengah), bisa sembuh denagan sebab mandi Tekaga Pegat. Telaga ini di buat pada tahun saka candra sengkala : “Telaga Pegat padusaning wong (1401 Saka)” 


Sunan Ampel Awal Kedatangannya ke Jawa

Makam Sunan Ampel
Salah satu Wali Songo, Yakni Sunan Ampel makamnya terletak di kampung Ampel, kota Surabaya, beliau dalah guru rohani yang paling tua dan  paling memiliki peranan sangat besar dalam pengembangan dakwah  Islam di Nusantara. Sunan Ampel  mendidik kader-kader penggerak dakwah Islam seperti: Sunan Giri, Raden patah, Raden Kusen, Sunan Bonang dan Sunan Drajat dengan cara menikahkan juru dakwah dengan putri-putri penguasa bawahan Majapahit. Sunan Ampel membentuk keluarga-keluarga muslim dalam suatu jaringan kekerabatan yang menjadi cikal bakal dakwah Islam di berbagai daerah. Sunan Ampel sendiri menikahi putri Arya Teja, Bupati Tuban yang juga cucu Arya Lembusura, Raja Surabaya yang muslim. Jejak dakwah Sunan Ampel tidak hanya di Surabaya dan ibu kota Majapahit, melinkan meluas ke wilayah Kalimantan.

Dalam historiografi local, diceritakan bahwa Raden Rahmat datang ke Jawa dengan saudara tuanya yang bernama Ali Musada (Ali Murtadho) dan saudara sepupunya yang bernama Raden Burereh (Abu Hurairah). Menurut Lembaga Riset Islam Pesdantren Luhur Sunan Giri, Malang, dalam Sejarah dan dakwah Islamiah Sunan Giri (1975), imam Rahmatullah (Raden Rahmat) bersama ayahnya datang ke Jawa dengan tujuan dakwah Islamiyah dengan disertai saudaranya yang bernama Ali Murtadho dan kawannya bernama Abu Hureirah putra raja Champa, mereka mendarat di Tuban. Setelah beberapa lama tinggal di Tuban sampai ayahnya meninggal, imam Rahmatullah kemudian berangkat menuju ke Majapahit untuk menjumpai bibinya yang dinikai oleh Raja Majapahit yang masih beragama Buddha.  Sementara itu, menurut Djayadiningrat dalam Sejarah Banten (1983) dikisahkan bahwa Raden Rahmat ketika dewasa mendengar tentang peperangan di Jawa. Dengan tiga orang pandhita muda (ulama muda) lainnya, Burereh, Seh Salim dan saudaranya yang tidak disebutkan namanya. Raden Rahmat berangkat ke Jawa, Usai berangkat ke Jawa, tak lama kemudian Champa negeri asalnya,  dihancurkan oleh  seorang kafir dari Sanggora.

Kedatangan Sunan Ampel ke Majapahit diperkirakan terjadi pada awal dasawarsa keempat abad ke 15, yakni saat Arya Damar sudah menjadi Adipati Palembang, sebagaimana riwayat yang menyatakan bahwa sebelum ke Jawa, Raden Rahmat telah singgah di Palembang. Menurut Thomas W. Arnold dalam The Preaching of Islam (1977), Raden Rahmat sewaktu di Palembang menjadi tamu Arya Damar selama dua bulan, dan dia berusaha mengenalkan Islam kepada raja muda Palembang tersebut.  Arya Damar yang sudah tertarik dengan Islam itu hampir saja diikrarkan menjadi Islam. Namun karena tidak berani menanggung resiko menghadapi tindakan rakyatnya yang masih terikat dengan kepercayaan lamanya, Sang Adipati tidak mau menyatakan keislamannya di depan umum. Menurut cerita setempat, setelah memeluk Islam, Arya Damar menggunakan nama Ario Abdillah.

Peziarah di Makam Sunan Ampel
Keterangan dari Hikayat Hasanuddin yang dikupas oleh J Edel (1938) menjelaskan pada waktu itu kerajaan Champa ditaklukkan oleh Raja Koci, Raden Rahmat  posisi sudah bermukim di Jawa. Itu berarti Raden Rahmat datang ke Jawa sebelum tahun 1446 M, yakni pada tahun jatuhnya Champa akibat serbuan dari Vietnam. Hal ini sejalan dengan sumber dari Serat Walisongo yang menyatakan bahwa Prabu Brawijaya, Raja Majapahit mencegah Raden Rahmat untuk kembali ke Champa, sebab Champa sudah rusak akibat kalah perang dengan Kerajaan Koci (myang katuju ing wakta/ lamun ing Champa nagari/mangkya manggih karisakan/kaser prang lan natenng Koci). Penempatan Raden Rahmat di Surabaya dan saudaranya di Gresik, tampaknya memiliki kaitan erat dengan suasana politik di Champa, sehingga dua bersaudara tersebut ditempatkan di Suarabaya dan Gresik dan dinikhkan dengan perempuan setempat.

Babad Ngampeldenta menuturkan bahwa pengangkatan resmi Raden Rahmat sebagai imam di Surabaya dengan gelar Sunan dan kedudukan wali di ngampeldenta dilakukan oleh Raja Majapahit. Dengan demikian, Raden Rhmat lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ngampel. Menurut sumber Legenda Islam yang dicatat HJ.De Graaf dan Th G.Th. Pigeaud dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa. Peralihan dari Majapahit ke Mataram (1986), Raden Rahmat diangkat menjadi Imam Masjid  oleh  pejabat pecat Tandha di Terung bernama Arya Sena. Penempatan Raden Rahmat di Surabaya, selain di lakukan secara resmi oleh Pecat Tandha di Terung juga di sertai oleh keluarga-keluarga yang dipercayakan Majapahit untuk dipimpinnya. Menururt Lembaga Riset Islam Pesantren Luhur Sunan Giri Malang (1975), karena hubungan baik dengan Raja Majapahit, Raden Rahmat diberi izin tinggal di Ampel disertai oleh keluatga-keluarga yang  diserahkan oleh Majapahit.

Dalam perjalanan menuju Ampel, dikisahkan Raden Rahmat melewati daerah Pari, Kriyan, Wonokromo dan Kembang Kuning yang berupa hutan. Di tempat itu, Raden Rahmat bertemu dengan Ki Wiryo Saroyo. Menurut sumber lin, Ki Wirajay, yang dikenal sebagai Ki Bang Kuning yang kemudian menjadi pengikut Raden Rahmat. Sementara menururt Babad Tanah Jawi, sewaktu tinggal di kediaman Ki Bang Kuning, Raden Rahmat menikah dengan putri Ki Bang Kuning yang bernama Mas Karimah. Dari pernikahannya itu lahirlah  dua orang putri: Mas Murtosiyah dan Mas Murtosimah. Selama tinggal di kediaman Ki Bang Kuning, Raden Rahmat dikisahkan membangun sebuah masjid dan menyebarkan dakwah Islam kepada masyarakat sekitar. Demikianlah, Ki bang Kuning yang menjadi mertua Raden  Rahmat ikut berperan serta mengambangkan dakwah Islam di sekitar kediamannya, terutma  melalui masjid yang telah dibangun oleh menantunya. Oleh karena Ki Bang Kuning memiliki putrid bernama Mas Karimah, maka ia dikenal juga dengan sebutan Mbah Karimah, artinya ‘bapaknya Si Karimah’. Dengan nama itu, ia lebih dikenal masyarakat sekitar sebagai sesepuh desa sehingga saat wafat makamnya dijadikan peziarahan oleh umat Islam.

Menurut Serat walisongo, Raja Majapahit tidak langsung mengangkat Raden Rahmat di Ampeldenta, melinkannya menyerhkannya ke Adipati Surabaya bawahan Majapahit bernama Arya Lembusura, yang bergama Islam. Arya Lembusura dikisahkan menempatkan Raden Santri Ali menjadi imam di Gresik dengan gelar Raja Pandhita Agung dengan nama Ali Murtala (Ali Murtadho). Setelah itu, Arya Lembusura menempatkan Raden Rahmat sebagai imam si Suarabaya, berkediaman di Ampeldenta dengan gelar Sunan Ampeldenta, dengan nama  Pangeran Katib. Bahkan, dikisahkan Raden Rahmat menikah dengan Nyai Ageng Manila, putri Arya Teja dari Tuban. Menurut Sejarah Dalem, Arya Teja dari Tuban menikahi putri Arya Lembusura dan menurunkan bupati-bupati Tuban. Hal itu berarti, Nyai Ageng Manila yang dinikahi Raden Rahmat adalah cucu perempuan Arya Lembusura. Oleh karena terhitung cucu menantu Arya Lembusura, maka pada saat Arya Lembusura mangkat, Raden Rahmat menggantikan kedudukannya sebagai penguasa Surabaya, sebagaimana  dikisahkan sumber-sumber tertulis seperti Sejarah  Regent Soerabaja yang mencatat bahwa Raden Rahmat adalah bupati pertama Surabaya (punika panjenengan ing kabupaten surapringga, kangjeng sinuhun ngAmpeldenta, name pangeran rahmat juluk she mahddum, seda kasreaken ing ngampel).  
Sumber: Atlas Walisongo


Rabu, 16 Agustus 2017

Karomah Syekh Maulana Malik Ibrahim Menurunkan Hujan

Makam Sunan Malik Ibrahim 
Salah satu Wali Songo periode pertama yaitu Syekh Maulana Malik Ibrahim sering kali disebut-sebut memiliki karomah dalam menurunkan hujan saat musim kemarau yang berkepanjangan.

Kisahnya saat Syekh Maulana Malik Ibrahim atau juga sering disebut sebagai Sunan Gresik ini mengembara dan bertemu dengan sekelompok orang yang tengah mengadakan upacara pengorbanan seorang gadis di atas bukit untuk meminta hujan.

Dalam upacara itu sang dukun telah siap menghujamkan sebilah pisau ke dada gadis cantik yang dijadikan persembahan bagi Dewa Hujan.

Wanita itu adalah gadis ketiga yang dipersembahkan ke Dewa Hujan setelah dua korban sebelumnya dipersembahkan namun tidak juga membuat hujan turun dari langit.

Dari kejauhan Syekh Maulana Malik Ibrahim berteriak lantang mencegah praktik persembahan manusia itu, tetapi ujung pisau telah sampai ke dada si gadis malang.

Namun keajaiban terjadi, pisau itu tak mampu menembus dadanya. Si dukun merasa ada kekuatan gaib yang menghadang tenaganya menekan pisau ke dada. Sampai kemudian si dukun terlempar jauh.

Tahulah si dukun setelah Syekh Maulana Malik Ibrahim mendekat. Dengan rasa marah, si dukun menanyakan kenapa Syekh Maulana Malik Ibrahim menghalangi pelaksanaan upacara persembahan manusia itu.

“Sudah berapa gadis yang dikorbankan,? ” tanya Syekh Maulana Malik. “Dua,” jawab si dukun itu. “Apakah setelah dua nyawa itu melayang, hujan turun, ? ” tanya Syekh Maulana Malik Ibrahim lagi.

Si dukun terdiam. Memang setelah dua persembahan lalu, Dewa Hujan belum juga bermurah hati menurunkan airnya. Tetapi dia meyakini setelah yang ketiga ini, Dewa Hujan akan mengabulkan permohonannya, yang juga merupakan permohonan semua penduduk di daerah itu.

Sesaat setelah menyadari kondisi yang dialami penduduk, Syekh Maulana Malik Ibrahim berujar, “Bila hujan dapat turun, masihkah kalian akan mengorbankan gadis ini,? ”.

“Yang kami inginkan adalah hujan, tuan. Jika hujan turun, kami akan bebaskan gadis itu,” ujar seorang penduduk.

Syekh Maulana Malik lalu menjalankan salat Istisqa untuk minta hujan. Karena karomahnya membuat hujan turun dengan deras, mengakhiri kekeringan di daerah tersebut.

Orang-orang yang menyaksikan itu menjadi takjub dan tak kepalang gembiranya. Mereka serentak bersujud seperti menyadari bahwa Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah seorang dewa.
  
Tetapi Syekh Maulana Malik segera mencegah dan menyuruh mereka bangkit. Dengan lembut dia menjelaskan semua adalah berkat keagungan Allah SWT, tuhan yang sebenarnya.

Dengan takjub dan mendapat pencerahan dari sebuah tanda kebesaran Allah yang baru lewat tadi, orang-orang itu menyatakan ketertarikannya pada Islam.

Mereka ingin memeluk Islam dan belajar mengenai ajarannya. Lalu orang-orang tersebut diajarkannya mengucap dua kalimat sahadat dan masuk agama Islam.

Selain mampu menurunkan hujan, Syekh Maulana Malik Ibrahim juga memiliki karomah lainnya yaitu dapat mengubah beras menjadi pasir.

Konon dalam perjalanan dakwah ke sebuah dusun yang diberkahi dengan tanah subur, Syekh Maulana Malik Ibrahim bersama seorang muridnya singgah di sebuah rumah. Rumah itu milik saudagar kaya. Menurut desas-desus pemilik rumah itu amat kikir.

Padahal si empunya rumah adalah orang berada yang memiliki berton-ton beras. Halaman rumahnya pun sangat luas. Di sana tersusun berkarung-karung beras hasil pertanian.

Rupanya Syekh Maulana Malik Ibrahim ingin menemui si empunya rumah dan menasihatinya agar meninggalkan sifat fakir dan kikir itu.

Saudagar kaya tersebut menerima dengan ramah kunjungan Syekh Maulana Malik Ibrahim. Dihidangkanlah jamuan yang baik bagi Syekh Maulana Malik Ibrahim. Namun sesaat berselang, datanglah seorang pengemis, perempuan tua, ke hadapan orang kaya itu.

“Tuan, saya lapar sekali, bolehkah saya minta sedikit beras,” ujar perempuan tua itu sambil melirik ke karung beras yang berada di halaman.
 
Orang kaya itu terkejut, segera dia beranjak dari duduknya, dihampirinya beras-beras yang merupakan harta kekayaannya itu. Ternyata benar, beras itu telah berubah menjadi pasir. Seketika tubuh orang kaya itu lemas. Dia pun bersimpuh menangis.

Syekh Maulana Malik Ibrahim lalu menghampirinya. “Bukankah engkau sendiri yang mengatakan bahwa beras yang kau miliki itu pasir, kenapa kau kini menangis,?” Syekh Maulana Malik Ibrahim menyindir muridnya yang kikir itu.

“Maafkan saya Sunan. Saya mengaku salah. Saya berdosa,!” si murid meratap bersimpuh di kaki Syekh Maulana Malik Ibrahim.

Syekh Maulana Malik Ibrahim tersenyum, “Alamatkan maafmu kepada Allah dan pengemis tadi. Kepada merekalah permintaan maafmu seharusnya kau lakukan,” ujar Syekh Maulana Malik Ibrahim.

Penyesalan yang dalam langsung menyergap orang kaya itu. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri yang telah berbuat kezaliman. Kepada Syekh Maulana Malik Ibrahim dia berjanji akan mengubah semua perbuatannya.

Dia mohon juga agar berasnya bisa kembali lagi seperti semula. Kekikirannya ingin dia buang jauh-jauh dan menggantinya dengan kedermawanan.

Syekh Maulana Malik Ibrahim kembali berdoa, dan dengan izin Allah, beras yang telah berubah menjadi pasir itu menjadi beras kembali. Karena kekuatan yang berasal dari Allah memungkinkan kejadian itu.

Orang kaya tersebut tidak membohongi lisannya. Dia berubah menjadi dermawan, tak pernah lagi dia menolak pengemis yang datang. Bahkan dia mendirikan musala dan majelis pengajian serta tempat ibadah lainnya.

Menurut beberapa literatur yang ada, Syekh juga Maulana Malik Ibrahim sangat ahli dalam pertanian, pengobatan dan tata negara.

Demikianlah sekelumit kisah tentang Syekh Maulana Malik Ibrahim. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca dan dapat mengambil hikmah dari hal tersebut.

“Mana beras,? Saya tidak punya beras, karung-karung itu bukan beras, tapi pasir,” ujar orang saudagar kaya itu.

Pengemis tua itu tertunduk sedih. Dia pun beranjak pergi dengan langkah kecewa. Kejadian itu disaksikan langsung Syekh Maulana Malik Ibrahim.

Ternyata apa yang digunjingkan orang tentang muridnya ini benar adanya. Syekh Maulana Malik Ibrahim bergumam dalam hati, dan dia pun berdo’a. Pembicaraan yang sempat tertunda dilanjutkan kembali.

Tiba-tiba ramah-tamah antara murid dan guru itu terhenti dengan teriakan salah seorang pembantu orang kaya itu. “Celaka tuan, celaka! Saya tadi melihat beras kita sudah berubah jadi pasir. Saya periksa karung lain, isinya pasir juga. Ternyata tuan, semua beras yang ada di sini telah menjadi pasir!,” kata Pembantu itu dengan suara bergetar melaporkan.


Mengunjungi Makam Wali Allah, Sultan Suriansyah

Makam Sultan Suriansyah   S ultan Suriansyah, berasal dari keturunan raja-raja Kerajaan Negara Daha. Ia merupakan Raja Banjar pertama yan...